Jawa Pos Radar Lawu - Publik kembali diguncang tragedi yang menimpa jajaran diplomatik Indonesia. Setelah kematian Zetro Leonardo Purba, diplomat RI yang ditembak di Lima, Peru, muncul kembali sorotan terhadap misteri kematian Arya Daru Pangayunan (ADP), diplomat muda Kemlu yang ditemukan tewas dengan kepala terlilit lakban di Jakarta, Juli lalu.
Kasus dua diplomat yang meninggal dalam kurun waktu berdekatan itu kini memunculkan spekulasi baru: apakah ada benang merah di balik kematian Zetro dan Arya?
Polisi Buka Peluang Fakta Baru dalam Kasus Arya Daru
Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Ade Ary Syam Indradi menegaskan bahwa penyelidikan atas kematian Arya Daru masih terbuka terhadap segala kemungkinan dan informasi baru.
Hal itu disampaikan menyusul klaim keluarga yang menyebut akun WhatsApp dan Instagram Arya masih aktif usai kematiannya.
“Sekecil apapun informasi akan kami tampung dan ditindaklanjuti dalam proses penyelidikan,” ujar Kombes Ade Ary, Selasa (26/8/2025) dilansir dari Antara.
Pernyataan ini muncul tak lama setelah keluarga Arya, saat konferensi pers di Yogyakarta (23/8/2025), mengungkap adanya amplop misterius dan kejanggalan dalam rekaman CCTV, yang menurut mereka belum mendapat perhatian serius.
Zetro Leonardo Purba Ditembak Saat Bersepeda di Peru, Belum Diketahui Motifnya
Di sisi lain, Zetro Leonardo Purba, diplomat RI di KBRI Lima, ditembak tiga kali oleh orang tak dikenal saat sedang bersepeda dengan istrinya pada Senin malam (1/9/2025) waktu setempat.
Peristiwa itu terjadi hanya lima bulan setelah Zetro memulai tugasnya di Peru sebagai Penata Kanselerai Muda.
Zetro sempat dilarikan ke Klinik Javier Prado, namun nyawanya tak tertolong. Istrinya selamat dan kini dalam perlindungan polisi Peru.
Baca Juga: Update Demo Bandung: Ricuh di DPRD Jabar, Massa Tuntut Copot Kapolri!
Hingga saat ini, pelaku belum teridentifikasi, dan motif penembakan masih menjadi misteri.
Dua Diplomat Meninggal dalam Dua Bulan, Ada Pola?
Kematian Zetro hanya berselang dua bulan setelah kasus kematian Arya Daru di Jakarta.
Arya ditemukan tewas dalam kondisi tidak wajar, dengan luka-luka serta kepala terlilit lakban, di sebuah kamar kost di kawasan Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat.
Meskipun polisi menyebut tidak ditemukan keterlibatan pihak lain berdasarkan hasil olah TKP, toksikologi, dan DNA, keluarga Arya tidak puas dan menilai ada banyak kejanggalan dalam investigasi.
“Kami mohon kepada Presiden Prabowo agar memerintahkan Kapolri dan Kemlu RI untuk mengusut tuntas kasus ini,” ujar ayah Arya, Subaryono.
Publik Desak Transparansi dan Audit Independen
Kematian dua diplomat muda yang masing-masing bertugas di lingkungan Kemlu—dengan latar belakang pengabdian luar negeri—telah memicu desakan publik untuk audit menyeluruh terhadap sistem keamanan diplomat RI, baik di dalam maupun luar negeri.
Pengacara keluarga Arya Daru, Nicholay Aprilindo, menyebut bahwa jika ada pihak ketiga yang terlibat atau upaya menutupi fakta, pengusutan harus dilakukan secara independen dan transparan. (kid)
Editor : Nur Wachid