Jawa Pos Radar Lawu – Kadang, kita sering merasa bersalah tanpa sebab, meragukan diri sendiri hingga terus-terusan meminta maaf padahal bukan kita yang bersalah.
Ini bisa jadi merupakan salah satu ciri kalau kamu menjadi korban gaslighting, salah satu bentuk kekerasan emosional yang kerap terjadi dalam sebuah hubungan tanpa disadari.
Apa Itu Gaslighting?
Gaslighting bukan sekadar konflik atau adu argumen biasa.
Ini adalah salah satu bentuk manipulasi psikologis yang terstruktur, di mana pelaku secara sengaja membuat korban meragukan realitas, ingatan, hingga kewarasan dirinya sendiri.
Akibatnya, korban menjadi bingung, tidak percaya diri, bahkan kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
Istilah gaslighting berasal dari drama Inggris tahun 1938 berjudul Gas Light, yang menggambarkan seorang suami yang secara diam-diam meredupkan lampu rumah, lalu menyangkal perubahan itu saat istrinya bertanya.
Istri yang awalnya yakin dengan apa yang dia lihat, lama-kelamaan mulai merasa dirinya gila.
Dari sinilah istilah gaslighting lahir, dan hingga kini digunakan untuk menjelaskan bentuk kekerasan emosional yang mematikan secara diam-diam.
Fakta-Fakta Gaslighting yang Jarang Disadari
Baca Juga: 5 Ide Hadiah Edukatif yang Cocok untuk Lomba Agustusan Anak-anak
Berikut adalah beberapa fakta mengenai perilaku gaslighting yang perlu kamu ketahui
- Korban Dibuat Meragukan Realitas
Pelaku akan berulang kali menyangkal fakta, bahkan ketika ada bukti jelas.
Tujuannya adalah membuat korban bingung, kemudian merasa “Jangan-jangan memang aku yang salah ingat?”
- Emosi Korban Dianggap Berlebihan
“Ah, kamu terlalu sensitif.” “Itu hal kecil kok.” Kalimat-kalimat ini terdengar biasa, tapi saat terus diulang, bisa membuat korban kehilangan kepercayaan pada validitas emosinya sendiri.
- Korban Jadi Sering Minta Maaf, Meski Tak Bersalah
Gaslighting akan membuat korban selalu merasa segala hal adalah kesalahannya. Pelaku akan membalikkan masalah sehingga korban selalu merasa bersalah dan tak cukup baik.
- Pelaku Menghindari Inti Masalah
Saat diajak bicara serius, pelaku justru mengalihkan pembicaraan, bercanda, menyalahkan, atau mengubah topik untuk menghindari konfrontasi yang seharusnya terjadi.
- Korban Dijauhkan dari Orang-orang Terdekat
Salah satu strategi gaslighting adalah isolasi sosial.
Pelaku akan menciptakan narasi negatif tentang keluarga atau teman korban, membuat korban merasa hanya bisa bergantung pada si pelaku.
- Pelaku Terlihat Baik Padahal Manipulatif
Gaslighter bisa sangat menawan dan menyejukkan saat dibutuhkan, tapi tetap melanjutkan manipulasi emosional secara halus.
Gaslighting Bukan Hanya Terjadi di Hubungan Romantis
Nyatanya gaslighting tidak hanya terjadi di hubungan percintaan, namun bisa muncul di mana saja, dalam keluarga, pertemanan, bahkan lingkungan kerja.
Bos yang terus mengkritikmu tapi menyangkal pernah melakukannya, teman yang memanipulasi fakta, atau anggota keluarga yang membuatmu merasa selalu salah, semuanya bisa jadi bagian dari pola gaslighting.
Bagaimana Membedakan Gaslighting dan Perdebatan Biasa?
Tak semua konflik adalah gaslighting. Tapi kamu patut waspada jika:
- Diskusi selalu membuatmu merasa bersalah, bingung, dan tidak berdaya.
- Pelaku terus-menerus menolak fakta atau menyangkal kejadian nyata.
- Perasaanmu dianggap tidak valid dan kamu merasa makin terisolasi.
- Manipulasi terjadi secara konsisten dan terstruktur, bukan sekali dua kali.
Dalam perdebatan sehat, pendapat dan perasaan tetap dihargai meskipun berbeda.
Tapi dalam gaslighting, tujuan pelaku adalah mendominasi dan melemahkan korban secara perlahan.
Gaslighting adalah bentuk kekerasan psikologis yang serius dan berbahaya, bukan sekadar drama dalam sebuah hubungan. (*)
Editor : Riana M.