Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Gaslighting Kekerasan Emosional Terselubung yang Bikin Korban Meragukan Diri Sendiri, Kenali Ciri-cirinya Sebelum Terlambat

Lailatul Fadhila Hikma • Selasa, 5 Agustus 2025 | 01:46 WIB
Kenali ciri gaslighting
Kenali ciri gaslighting

Jawa Pos Radar Lawu – Kadang, kita sering merasa bersalah tanpa sebab, meragukan diri sendiri hingga terus-terusan meminta maaf padahal bukan kita yang bersalah.

Ini bisa jadi merupakan salah satu ciri kalau kamu menjadi korban gaslighting, salah satu bentuk kekerasan emosional yang kerap terjadi dalam sebuah hubungan tanpa disadari.

Apa Itu Gaslighting?

Gaslighting bukan sekadar konflik atau adu argumen biasa.

Ini adalah salah satu bentuk manipulasi psikologis yang terstruktur, di mana pelaku secara sengaja membuat korban meragukan realitas, ingatan, hingga kewarasan dirinya sendiri. 

Akibatnya, korban menjadi bingung, tidak percaya diri, bahkan kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

Istilah gaslighting berasal dari drama Inggris tahun 1938 berjudul Gas Light, yang menggambarkan seorang suami yang secara diam-diam meredupkan lampu rumah, lalu menyangkal perubahan itu saat istrinya bertanya. 

Istri yang awalnya yakin dengan apa yang dia lihat, lama-kelamaan mulai merasa dirinya gila.

Dari sinilah istilah gaslighting lahir, dan hingga kini digunakan untuk menjelaskan bentuk kekerasan emosional yang mematikan secara diam-diam.

Fakta-Fakta Gaslighting yang Jarang Disadari

Baca Juga: 5 Ide Hadiah Edukatif yang Cocok untuk Lomba Agustusan Anak-anak

Berikut adalah beberapa fakta mengenai perilaku gaslighting yang perlu kamu ketahui

Pelaku akan berulang kali menyangkal fakta, bahkan ketika ada bukti jelas.

Tujuannya adalah membuat korban bingung, kemudian merasa “Jangan-jangan memang aku yang salah ingat?”

“Ah, kamu terlalu sensitif.” “Itu hal kecil kok.” Kalimat-kalimat ini terdengar biasa, tapi saat terus diulang, bisa membuat korban kehilangan kepercayaan pada validitas emosinya sendiri.

Gaslighting akan membuat korban selalu merasa segala hal adalah kesalahannya. Pelaku akan membalikkan masalah sehingga korban selalu merasa bersalah dan tak cukup baik.

Saat diajak bicara serius, pelaku justru mengalihkan pembicaraan, bercanda, menyalahkan, atau mengubah topik untuk menghindari konfrontasi yang seharusnya terjadi.

Salah satu strategi gaslighting adalah isolasi sosial.

Pelaku akan menciptakan narasi negatif tentang keluarga atau teman korban, membuat korban merasa hanya bisa bergantung pada si pelaku.

Gaslighter bisa sangat menawan dan menyejukkan saat dibutuhkan, tapi tetap melanjutkan manipulasi emosional secara halus.

Gaslighting Bukan Hanya Terjadi di Hubungan Romantis

Nyatanya gaslighting tidak hanya terjadi di hubungan percintaan, namun bisa muncul di mana saja, dalam keluarga, pertemanan, bahkan lingkungan kerja. 

Bos yang terus mengkritikmu tapi menyangkal pernah melakukannya, teman yang memanipulasi fakta, atau anggota keluarga yang membuatmu merasa selalu salah, semuanya bisa jadi bagian dari pola gaslighting.

Bagaimana Membedakan Gaslighting dan Perdebatan Biasa?

Tak semua konflik adalah gaslighting. Tapi kamu patut waspada jika:

Dalam perdebatan sehat, pendapat dan perasaan tetap dihargai meskipun berbeda.

Tapi dalam gaslighting, tujuan pelaku adalah mendominasi dan melemahkan korban secara perlahan.

Gaslighting adalah bentuk kekerasan psikologis yang serius dan berbahaya, bukan sekadar drama dalam sebuah hubungan. (*)

Editor : Riana M.
#ciri #kekerasan mental #dampak #keluarga #psikologi #hubungan asmara #gaslighting #fakta