Jawa Pos Radar Lawu - Meski sudah tak diproduksi sejak lebih dari dua dekade lalu, nama Yamaha F1ZR terus bergema di pasar motor bekas Indonesia.
Motor bebek 2-tak legendaris itu ternyata masih sangat diminati, bahkan menjadi komoditas kolektor yang nilainya justru melonjak di tahun 2025.
Berdasarkan penelusuran di berbagai platform jual beli online seperti OLX, serta laporan dari media otomotif terpercaya seperti IDN Times dan Kompas Otomotif, harga Yamaha F1ZR bekas kini bervariasi mulai dari Rp 7 juta hingga menyentuh angka Rp 55 juta, tergantung kondisi, kelengkapan, dan edisi.
Model keluaran awal seperti Yamaha Force 1 Z tahun 1994 hingga F1ZR awal 1997 saat ini ditawarkan dengan harga mulai Rp 7,5 juta hingga Rp 10 juta.
Namun, unit-unit ini kebanyakan sudah mengalami banyak ubahan atau tak sepenuhnya orisinal.
Sementara model dari tahun 1999 hingga 2001 cenderung stabil di kisaran Rp 11 juta–Rp 13 juta, dengan catatan surat-surat lengkap dan pajak aktif.
Sedangkan untuk F1ZR keluaran 2003 atau 2004—generasi terakhir dengan desain paling modern dan kopling penuh—harga pasarnya bisa mencapai Rp 15,5 juta untuk unit standar.
Yang paling mencengangkan adalah harga untuk edisi spesial seperti F1ZR Marlboro Edition. Livery balap khas merah-putih yang terinspirasi dari sponsor MotoGP tersebut menjadikan motor ini primadona di kalangan penggemar dan kolektor motor dua tak.
Berdasarkan laporan Kompas Otomotif, salah satu unit F1ZR Marlboro dengan odometer hanya 4 km sempat terjual dengan harga fantastis: Rp 55 juta.
Tak hanya desain yang unik, unit ini juga masih menyimpan keaslian komponen dan kelengkapan surat-surat resmi.
Di marketplace OLX, pada Juli 2025 tercatat beberapa listing menarik: F1ZR 2003 dalam kondisi full original ditawarkan Rp 13,5 juta, versi upgrade dengan part racing dilepas Rp 28 juta, dan satu unit dengan kondisi istimewa (full clutch + pelek Enkei bawaan) dihargai Rp 19,9 juta.
Faktor seperti kondisi mesin, kelengkapan surat, keaslian onderdil, dan status edisi sangat berpengaruh terhadap harga jual.
Kondisi pasar juga menunjukkan bahwa modifikasi berlebihan justru menurunkan nilai jual, kecuali dilakukan secara profesional dengan dokumentasi lengkap.
Pembeli F1ZR kini semakin selektif, terutama mereka yang mengincar motor untuk dikoleksi atau dipamerkan di ajang komunitas.
Sebaliknya, unit dengan cat ulang asal-asalan atau menggunakan knalpot non-standar umumnya dihargai lebih rendah, bahkan meski tahun produksinya tinggi.
Tren naiknya harga Yamaha F1ZR ini juga tak lepas dari makin terbatasnya pasokan. Populasi motor 2-tak kian menipis akibat regulasi emisi dan pemakaian harian yang menuntut efisiensi bahan bakar.
Selain itu, makin banyak bengkel restorasi dan komunitas pecinta motor lawas yang aktif memopulerkan kembali motor-motor seperti F1ZR lewat konten media sosial dan ajang kumpul komunitas.
Baca Juga: Yamaha F1ZR Diburu Kolektor meski Boros Bensin, Simak 5 Alasan Pamor Motor 2 Tak Ini Tetap Tinggi
Dari data yang dihimpun selama tiga bulan terakhir, tren harga Yamaha F1ZR bekas diperkirakan akan terus naik, terutama menjelang pameran otomotif klasik akhir tahun ini.
Untuk para pemilik F1ZR yang masih menyimpan motornya dalam kondisi orisinal, mungkin inilah saat terbaik jika ingin melepasnya.
Tapi untuk pecinta sejati, F1ZR bukan sekadar kendaraan—ia adalah bagian dari sejarah balap Indonesia yang tak tergantikan. (gar)
Editor : Tegar Rukmana