Jawa Pos Radar Lawu – Siapa sangka, gerakan punk yang dulu lekat dengan stigma “anak nakal” dan simbol perlawanan, kini menjadi bagian dari gelombang dakwah Islam di Indonesia?
Dari identik teriakan keras gelorakan spirit anti kemapanan, kini sebagian anak punk di Indonesia memilih bersujud dan berdakwah di jalan Tuhan.
Ustad Suhanda dan Spirit Rumah Hijrah
Transformasi ini juga tak lepas dari peran para pendamping sosial.
Salah satunya adalah Ustad Suhanda, penyuluh agama dari Jatisampurna, Kota Bekasi.
Ia menjadi pelita bagi anak punk, mantan narapidana, hingga korban kekerasan sosial.
Melalui pendekatan dakwah yang empatik dan humanis, Ustad Suhanda mendirikan Rumah Hijrah sejak 2021.
Sebuah rumah singgah yang diperuntukkan bagi anak-anak jalanan agar dapat belajar agama, keterampilan hidup, dan membangun masa depan.
“Saya ingin Islam dirasakan oleh mereka yang paling merindukannya, tapi sering terpinggirkan,” ungkapnya.
Atas kiprah luar biasanya, Ustad Suhanda dipercaya mewakili Jawa Barat dalam ajang Penyuluh Agama Islam Award 2025 kategori Pendamping Kelompok Rentan.
Dari Musik Cadas ke Perjuangan Melawan Ketimpangan
Punk mulai tumbuh di Indonesia pada awal 1990-an.
Saat itu, band-band seperti Anti Fasis (Bandung) dan Front Anti-Penindasan (Surabaya) tak hanya memainkan musik keras, tapi juga lantang menentang rezim Orde Baru.
Mereka mengusung ideologi kiri seperti sosialisme dan anarkisme, berkolaborasi dengan gerakan mahasiswa dan Partai Rakyat Demokratik (PRD), demi memperjuangkan demokrasi.
Meski gerakan ini tidak besar secara jumlah, pengaruhnya terhadap aktivisme musik bawah tanah sangat signifikan.
Sejarah Punk Bertemu Jalan Dakwah
Pasca reformasi 1998, wajah punk Indonesia perlahan berubah.
Kemarahan terhadap sistem tak lagi ditumpahkan lewat ideologi kiri.
Sebagian anak punk justru menemukan ketenangan lewat ajaran agama, memunculkan apa yang kini dikenal sebagai Punk Islami.
Salah satu pelopor gerakan ini adalah band Punk Muslim, didirikan tahun 2007 oleh Budi Khaironi, Bowo, dan aktivis sosial Ahmad Zaki.
Tak hanya bermusik, mereka fokus membina anak-anak jalanan lewat pendidikan agama, pelatihan hidup, hingga pengajian rutin.
Meski tetap berpenampilan khas punk (bertato, rambut mohawk, dan jaket kulit) mereka kini aktif membaca Al-Qur’an, berdakwah, dan menjalani hidup dengan semangat hijrah.
Jaringan komunitas punk hijrah ini telah menyebar ke Surabaya, Bandung, Depok, Bekasi, dan kota-kota lainnya.
Anak Punk Menemukan Jalan Pulang
Perjalanan punk di Indonesia membuktikan bahwa perubahan adalah keniscayaan.
Dari musik keras penuh amarah ke lantunan doa yang meneduhkan, semangat perlawanan tetap hidup, hanya wujudnya yang kini berbeda.
Punk belum mati.
Mereka hanya menemukan jalan pulang.
Sebuah jalan sunyi yang menyentuh lubuk nurani terdalam. (fin)
Editor : AA Arsyadani