Jawa Pos Radar Lawu - Penampilan Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi), belakangan mencuri perhatian publik.
Bukan karena pernyataan politik atau kunjungan kerja, melainkan perubahan fisik yang mencolok di bagian wajah dan lehernya.
Sorotan ini mencuat setelah Jokowi tampil dalam sebuah wawancara televisi beberapa waktu lalu.
Banyak warganet menilai penampilannya terlihat berbeda dari biasanya, khususnya di area kepala dan wajah.
Perubahan tersebut langsung memicu berbagai spekulasi di media sosial.
Salah satu yang paling ramai dibahas adalah dugaan bahwa Jokowi tengah mengalami gangguan kesehatan serius.
Dokter Tifa, seorang aktivis yang kerap mengkritisi Presiden, bahkan turut menyuarakan keprihatinannya lewat cuitan di media sosial.
"Pak Jokowi kok seperti kena autoimun? Wajah dan leher tiba-tiba penuh melasma atau bercak-bercak hitam.
Dan tiba-tiba juga alopecia berat, rambut rontok mendadak di dahi, ubun-ubun, dan belakang kepala," tulisnya dalam akun Twitter/X, dikutip Minggu (1/6).
Tak hanya menyinggung soal autoimun, Dokter Tifa juga menyinggung kemungkinan lain seperti hiperkortisolisme, suatu kondisi medis akibat kelebihan hormon kortisol dalam tubuh.
Ia bahkan menyinggung perlunya penanganan psikologis.
"Dokter pribadi perlu meresepkan antidepresan. Kasihan, beban berbohong 10 tahun, nggak kebayang rasanya," tambahnya.
Sebagai informasi, autoimun adalah gangguan di mana sistem imun tubuh, yang seharusnya melindungi tubuh dari penyakit, malah menyerang jaringan sehat.
Penyebab pastinya belum diketahui, tetapi dipicu oleh berbagai faktor seperti genetik, infeksi virus atau bakteri, paparan bahan kimia, kebiasaan merokok, hingga obesitas.
Namun, dugaan yang beredar di publik dengan cepat dibantah oleh Ajudan Presiden, Kompol Syarif Muhammad Fitriansyah.
Dalam keterangannya pada Senin (2/6), ia menegaskan bahwa perubahan kondisi kulit Presiden Jokowi bukan disebabkan oleh penyakit serius, melainkan akibat reaksi alergi.
"Beliau sedang dalam masa pemulihan karena alergi kulit," ujar Syarif
Syarif juga membenarkan bahwa gejala alergi tersebut mulai muncul usai kunjungan kenegaraan ke Vatikan pada Sabtu (26/4), di mana Presiden Jokowi hadir dalam misa penghormatan untuk mendiang Paus Fransiskus.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa Jokowi sebenarnya telah menerima undangan untuk menghadiri upacara peringatan Hari Lahir Pancasila yang dipimpin oleh Presiden Prabowo Subianto pada Senin (3/6).
Namun, karena kondisi kesehatannya yang belum sepenuhnya pulih, Jokowi memutuskan untuk absen dari acara tersebut.
"Beliau diundang, namun masih dalam proses penyembuhan dari alergi kulit," tambahnya.
Hingga kini, belum ada pernyataan langsung dari Jokowi maupun keterangan medis resmi yang lebih mendalam.
Namun pihak Istana menegaskan kondisi kesehatan Presiden ke-7 RI itu tidak mengkhawatirkan dan masih dalam penanganan. (*)
Editor : Riana M.