Jawa Pos Radar Lawu - Sekretaris Jenderal Kementerian Agama, Kamaruddin Amin, menyampaikan bahwa seluruh jamaah sudah berada di Kota Suci dan disarankan untuk fokus mempersiapkan diri menghadapi puncak haji yang dimulai pada 8 Dzulhijah 1446 H atau 4 Juni 2025.
Untuk menjaga stamina dan kesehatan, jamaah diimbau mengurangi aktivitas di luar tenda atau hotel, cukup beristirahat, menjaga kebersihan, serta memperbanyak konsumsi air putih.
Layanan Bus Shalawat pun dihentikan sementara hingga 10 Juni 2025 untuk mendukung masa tenang ini.
Sebagai langkah antisipasi di puncak haji, layanan katering reguler di hotel diganti dengan makanan siap saji yang mudah dikonsumsi tanpa harus dipanaskan ulang.
Makanan ini sudah didistribusikan secara bertahap mulai 7 Dzulhijah (3 Juni) hingga 13 Dzulhijah (9 Juni) untuk menjaga gizi dan daya tahan jamaah selama masa berat ibadah.
Selama puncak haji di Armuzna, jamaah akan menerima 15 kali makan dan 1 snack berat, meliputi 5 kali makan di Arafah, 1 snack berat di Muzdalifah, dan 10 kali makan di Mina.
Kamaruddin juga menjelaskan dua skema pergerakan jamaah untuk mengurangi kepadatan di Muzdalifah dan Mina, yaitu Murur dan Tanazul.
Skema Murur memungkinkan jamaah yang lansia, disabilitas, atau uzur melewati Muzdalifah tanpa turun dari bus dan langsung menuju Mina untuk melakukan lempar jumrah dan mabit.
Sekitar 50.000 jamaah diperkirakan mengikuti skema ini.
Sedangkan skema Tanazul adalah pemulangan lebih awal ke hotel setelah lempar jumrah aqabah, yang akan diikuti sekitar 30.000 jamaah dari sektor Syisyah dan Raudhah.
Mereka tidak kembali ke tenda di Mina tapi langsung pulang ke hotel untuk mengurai kepadatan.
Semua persiapan ini diupayakan demi kenyamanan, keamanan, dan kelancaran jamaah Indonesia selama menjalankan puncak ibadah haji di Tanah Suci. (fin)
Editor : AA Arsyadani