Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Menag: Jadi Rektor di Era Post-Truth Harus Bisa Lihat ke Depan, Belakang, dan Samping

AA Arsyadani • Rabu, 28 Mei 2025 | 01:35 WIB
Menag akan adakan kursus calon pengantin lebih lama buat cegah perceraian di RI
Menag akan adakan kursus calon pengantin lebih lama buat cegah perceraian di RI

Jawa Pos Radar Lawu – Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan bahwa menjadi rektor di era post-truth bukanlah perkara mudah.

Di zaman ketika opini dan emosi sering mengalahkan fakta, seorang pemimpin perguruan tinggi dituntut memiliki pandangan luas dan kepekaan zaman.

Pernyataan itu disampaikan Menag saat melantik tiga rektor Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (PTKN) di bawah naungan Kementerian Agama, Senin (26/5/2025), di Jakarta.

Tiga rektor yang dilantik itu adalah Leny Nofianti MS, Rektor UIN Sultan Syarif Kasim Riau (2025–2029), I Wayan Wirata, Rektor IAHN Gede Puja Mataram (2025–2029) dan I Gede Suwindia, Ketua STAHN Mpu Kuturan Singaraja (2025–2029).

“Menjadi rektor saat ini menuntut kemampuan melihat segala arah bukan hanya ke depan, tetapi juga ke samping dan ke belakang,” ujar Nasaruddin.

Menurutnya, tantangan kepemimpinan di dunia pendidikan kini menuntut lebih dari sekadar kecerdasan akademik. Seorang rektor juga harus memiliki kesiapan mental, spiritual, dan kemampuan reflektif.

“Saya minta saudara-saudari mulai membangun kekuatan batin. Mohon bimbingan Tuhan agar bisa membina mahasiswa dengan ketulusan dan fokus,” tegasnya.

Selain aspek kepemimpinan moral, Nasaruddin juga menyoroti pentingnya pengelolaan anggaran yang cerdas dan bertanggung jawab.

Ia menegaskan agar dana negara dikelola secara efisien, transparan, dan akuntabel.

“Gunakan anggaran sebijak mungkin. Jangan sampai ada penyimpangan. Semua harus bisa dipertanggungjawabkan,” katanya.

Tak hanya mencetak lulusan cerdas, Menag mengingatkan pesan presiden agar perguruan tinggi menghasilkan generasi yang arif dan berakhlak mulia.

“Mendidik orang pintar relatif mudah, tetapi menjadikannya bijak dan rendah hati itu jauh lebih sulit,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya memperhatikan kesejahteraan dosen dan tenaga pendidik.

Menurutnya, dosen yang diabaikan bisa menjadi pemicu kegaduhan di lingkungan kampus.

“Jangan fokus ke mahasiswa saja. Dosen juga harus dirangkul, agar kampus tetap kondusif,” katanya.

Menutup sambutannya, Nasaruddin mendorong para rektor untuk berani berinovasi dan berpikir kreatif selama tetap dalam koridor regulasi.

“Masyarakat menanti karya nyata. Teruskan yang sudah baik, perbaiki yang belum, dan ciptakan terobosan baru,” pungkasnya. (fin)

 

???? Tag Populer:

#KementerianAgama #RektorBaru #PostTruthEra #PendidikanTinggi #NasaruddinUmar #PemimpinKampus

 

Editor : AA Arsyadani
#perguruan tinggi keagamaan negeri #Menag Nasaruddin Umar #rektor #kementerian agama #post truth #pendidikan tinggi