Dimana, uji klinis ini diikuti oleh lebih dari 20 ribu partisipan di seluruh dunia dan menjadi langkah penting dalam penggantian vaksin TBC lama yang telah berusia lebih dari satu abad.
Uji coba vaksin TBC M72/AS01E ini mencakup lima negara dengan beban penyakit TBC tertinggi, yakni Afrika Selatan, Kenya, Indonesia, Zambia, dan Malawi.
Afrika Selatan tercatat sebagai negara dengan jumlah peserta terbanyak, yakni 13.071 orang.
Sementara Indonesia menempati posisi ketiga dengan 2.095 partisipan dari kelompok usia remaja dan dewasa.
“Lima negara yang berpartisipasi dalam uji coba ini merupakan negara-negara dengan jumlah penyakit TBC yang besar,” tulis laporan Kementerian Kesehatan.
Berikut rincian partisipan per negara:
- Afrika Selatan: 13.071 orang
- Kenya: 3.579 orang
- Indonesia: 2.095 orang
- Zambia: 889 orang
- Malawi: 447 orang
Uji klinis di Indonesia dilakukan di sejumlah institusi kesehatan ternama seperti Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), RS Universitas Indonesia (RSUI), RSUP Persahabatan, RS Islam Cempaka Putih, dan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (FK UNPAD).
Vaksin TBC M72/AS01E merupakan kandidat vaksin generasi baru yang dikembangkan untuk menggantikan vaksin Bacillus Calmette-Guérin (BCG) yang telah digunakan sejak 1921.
Diketahui, vaksin ini terdiri dari protein fusi M72 dan adjuvan AS01E dari GlaxoSmithKline (GSK), serta telah melalui serangkaian uji klinis sebelumnya dengan tingkat efikasi 50% terhadap TB paru pada orang dewasa dengan infeksi TBC laten dan HIV-negatif.
Prof. Tjandra Yoga Aditama, Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), menegaskan bahwa dunia membutuhkan vaksin TBC baru untuk mencapai target eliminasi TBC pada 2030.
“Vaksin BCG hanya memberi proteksi sebagian pada anak, dan tidak dapat mencegah terjadinya penyakit TB pada dewasa,” ujar Tjandra.
“Vaksin baru diharapkan dapat juga menjadi semacam imunoterapi atau terapi ajuvan untuk memperpendek lama pengobatan TB,” imbuh mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara itu.
Partisipasi Indonesia dalam uji klinis ini menunjukkan komitmen kuat dalam kolaborasi riset global demi penanggulangan penyakit menular dan mendorong kemandirian produksi vaksin nasional di masa depan. (okta)
Editor : Riana M.