Jawa Pos Radar Lawu – Vatikan resmi mengumumkan terpilihnya Paus Leo XIV sebagai pemimpin baru Gereja Katolik menggantikan mendiang Paus Fransiskus.
Terpilihnya Leo XIV pada 8 Mei 2025 lewat Konklaf Kepausan membawa angin baru di tengah ketegangan global, terutama konflik berkepanjangan antara Israel dan Palestina.
Paus Leo XIV, yang memiliki nama asli Robert Francis Prevost, adalah seorang tokoh asal Chicago dan merupakan anggota Ordo Santo Agustinus.
Ia dikenal luas karena kiprahnya sebagai Uskup Chiclayo di Peru sejak 2015 dan sempat menjabat sebagai prefek Dikasteri untuk Para Uskup sejak 2023.
Leo XIV juga menjadi kardinal yang diangkat langsung oleh Paus Fransiskus—sebuah tanda kuat akan kesinambungan arah moderat dan reformis.
Lahir di Amerika, Berkarya di Amerika Latin
Prevost menjadi paus pertama dari Amerika Utara dan juga paus pertama dari Ordo Santo Agustinus.
Ia juga merupakan paus kedua dari Amerika Latin, mengikuti jejak Paus Fransiskus asal Argentina.
Dengan nama Leo XIV, ia memberikan penghormatan kepada Paus Leo XIII, paus yang terkenal karena sikap pro-buruh dan pandangan sosial progresif di abad ke-19.
Terpilihnya Leo XIV disebut-sebut sebagai “kejutan” karena mengalahkan kandidat-kandidat kuat seperti Kardinal Pietro Parolin, Matteo Zuppi, hingga Luis Antonio Tagle.
Namun, banyak pihak percaya ia adalah kandidat kompromi yang mampu menjaga semangat reformasi Paus Fransiskus.
Sikap Terhadap Palestina, Meneruskan Warisan Fransiskus?
Salah satu isu paling mendesak yang kini ditunggu-tunggu publik adalah bagaimana Paus Leo XIV akan bersikap dalam konflik Israel-Palestina.
Sebagaimana diketahui, mendiang Paus Fransiskus dikenal sebagai suara moral yang vokal membela rakyat Palestina.
Selama masa kepemimpinannya, Paus Fransiskus secara rutin menjalin komunikasi dengan umat Katolik di Jalur Gaza, menyerukan penghentian agresi Israel, dan bahkan mendonasikan popemobile sebagai klinik keliling anak-anak Gaza.
Namun, hingga kini Paus Leo XIV belum menyampaikan pernyataan publik langsung terkait agresi di Gaza.
Meskipun begitu, dalam sejumlah isu kemanusiaan, ia tercatat vokal mengkritik kebijakan imigrasi keras era Donald Trump dan menunjukkan kepedulian pada keadilan sosial global.
Harapan dari Gaza untuk Paus Baru
Komunitas Katolik di Jalur Gaza menyambut dengan antusias terpilihnya Leo XIV.
“Kami memohon agar Paus baru memandang Gaza dengan mata dan hati Paus Fransiskus,” ujar George Antone dari Gereja Keluarga Kudus di Kota Gaza, dikutip dari Reuters.
Gereja Keluarga Kudus adalah satu-satunya gereja Katolik di Jalur Gaza dan menjadi simbol perlawanan spiritual di tengah konflik.
Warga Gaza berharap Leo XIV tetap membawa semangat solidaritas dan perjuangan perdamaian seperti yang diwariskan oleh pendahulunya.
Mewarisi Reformasi dan Moderasi
Dengan semboyan In illo Uno unum (“Dalam Kristus yang satu, kita adalah satu”), Paus Leo XIV diharapkan meneruskan tradisi moderat dan reformis Gereja Katolik.
Ia tampil perdana dengan gaya sederhana, menyampaikan berkat Urbi et Orbi dalam bahasa Latin dan menyapa umat dalam bahasa Spanyol dan Italia.
Kini, perhatian dunia tertuju ke Vatikan—akankah Paus Leo XIV menjadi jembatan damai bagi konflik Timur Tengah seperti Paus Fransiskus dahulu? (kid)
Editor : Nur Wachid