Jawa Pos Radar Lawu – Setiap tanggal 22 April, masyarakat dunia memperingati Hari Bumi (Earth Day) sebagai pengingat pentingnya menjaga kelestarian alam demi masa depan planet ini.
Pada tahun 2025, Hari Bumi jatuh pada hari Selasa, dan kembali menjadi momentum refleksi serta aksi nyata menjaga lingkungan dari kerusakan.
Peringatan Hari Bumi tidak sekadar seremoni tahunan.
Ia menyimpan sejarah panjang perjuangan dan kesadaran global akan pentingnya pelestarian lingkungan hidup.
Asal-Usul Hari Bumi: Dari AS ke Seluruh Dunia
Menurut situs resmi Earth Day, Hari Bumi pertama kali diprakarsai oleh Senator Gaylord Nelson dari Wisconsin, Amerika Serikat, pada tahun 1970.
Ia terinspirasi dari bencana tumpahan minyak besar di Santa Barbara, California, pada tahun 1969.
Melihat dampaknya, Nelson bertekad menciptakan gerakan nasional yang fokus pada isu lingkungan.
Tanggal 22 April dipilih karena bertepatan dengan masa jeda antara libur musim semi dan ujian akhir semester di kampus-kampus AS, yang memungkinkan partisipasi mahasiswa dalam jumlah besar.
Hasilnya? Lebih dari 20 juta orang di seluruh negeri terlibat dalam berbagai kegiatan Hari Bumi pertama seperti demonstrasi, edukasi, dan bersih-bersih lingkungan.
Sejak itu, Hari Bumi berkembang menjadi gerakan global. Lebih dari 175 negara kini memperingatinya setiap tahun, dikoordinasikan oleh Earth Day Network.
Meskipun demikian, di Indonesia Hari Bumi masih kalah populer dibanding Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang jatuh setiap 5 Juni.
Apa Bedanya dengan Hari Lingkungan Hidup?
Hari Bumi lahir dari inisiatif masyarakat sipil, sementara Hari Lingkungan Hidup Sedunia berasal dari Konferensi Stockholm PBB tahun 1972.
Keduanya punya semangat yang sama: membangkitkan kepedulian terhadap lingkungan hidup. Namun, sejarah dan aktor di baliknya berbeda.
Tujuan Peringatan Hari Bumi
Hari Bumi bukan sekadar hari libur atau seremoni tahunan. Ada lima tujuan utama yang mendasari peringatannya:
1. Meningkatkan Kesadaran Lingkungan
Mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk menyadari kerusakan alam akibat aktivitas manusia dan pentingnya bertindak menjaga keseimbangan alam.
2. Mendorong Perubahan Perilaku
Menginspirasi gaya hidup dan kebijakan publik yang lebih ramah lingkungan, seperti penggunaan energi terbarukan dan pengurangan limbah plastik.
3. Mengajak Aksi Nyata
Mulai dari menanam pohon, bersih-bersih lingkungan, hingga mengurangi jejak karbon, Hari Bumi menjadi ajakan kolektif untuk bertindak, bukan hanya bicara.
4. Menumbuhkan Rasa Tanggung Jawab Bersama
Bumi adalah rumah bersama. Tanggung jawab untuk menjaganya ada di pundak setiap individu, komunitas, perusahaan, dan pemerintah.
5. Melindungi Masa Depan Generasi Mendatang
Pelestarian lingkungan bukan hanya soal hari ini, tetapi juga warisan untuk anak cucu. Planet yang sehat adalah investasi jangka panjang.
Aksi Hari Bumi di Indonesia 2025
Dalam rangka memperingati Hari Bumi 2025, berbagai komunitas di Indonesia menggelar aksi lingkungan.
Salah satunya adalah penanaman 1.500 bibit mangrove di Maros, Sulawesi Selatan, oleh komunitas Dara Daeng dan GenPI Sulsel.
Selain itu, kerja sama antara Indonesia dan Kanada juga menghasilkan kegiatan tanam 100 pohon ulin di Kalimantan, sebagai simbol komitmen pelestarian hutan tropis.
Hari Bumi adalah momen penting untuk kembali merefleksikan peran kita sebagai penghuni planet ini.
Lebih dari sekadar perayaan, ia adalah panggilan untuk bertindak nyata.
Dari rumah, sekolah, kantor, hingga kebijakan publik—semua pihak memiliki peran dalam menjaga bumi tetap lestari.
Mari jadikan Hari Bumi 22 April bukan hanya sekadar peringatan, tapi awal dari perubahan nyata. (kid)
Editor : Nur Wachid