Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Idul Fitri Versi Jemaah Syattariyah di Magetan: Penetapan 1 Syawal Gunakan Perhitungan Windu Jawa

Aprilita Sari • Selasa, 1 April 2025 | 18:38 WIB
Pelaksanaan perayaan Idul Fitri oleh Jemaah Syattariyah di Kuwonharjo, Takeran, Magetan, 1 April 2025.
Pelaksanaan perayaan Idul Fitri oleh Jemaah Syattariyah di Kuwonharjo, Takeran, Magetan, 1 April 2025.

MAGETAN, Jawa Pos Radar Lawu – Kelompok jemaah Tarekat Syattariyah di Kabupaten Magetan menggelar Salat Idulfitri 1446 Hijriah lebih lambat sehari dari ketetapan pemerintah.

Mereka melaksanakan salat Ied pada Selasa (1/4) pagi di sejumlah lokasi, termasuk di Masjid Al Muttaqin, Dukuh Bendo, Desa Kuwonharjo, Kecamatan Takeran.

Rangkaian ibadah dimulai sejak Subuh dengan takbir bersama. Sekitar pukul 06.45 WIB, salat Idulfitri dilaksanakan dengan diikuti puluhan jemaah pria dan wanita.

Di lokasi lain seperti Musala Al-Muslimun, Desa Tapen, Kecamatan Lembeyan, jemaah Tarekat Syattariyah juga melakukan hal serupa.

Khatib salat Ied, Darno, menjelaskan bahwa Tarekat Syattariyah menggunakan sistem penanggalan berdasarkan siklus windu delapan tahunan dan pasaran Jawa.

Tahun ini masuk dalam tahun Za/Je dengan perhitungan awal tahun jatuh pada Selasa Pahing.

Berdasarkan rumus tersebut, maka 1 Syawal tahun ini ditetapkan pada Selasa Pon, atau 1 April 2025.

“Ini sudah menjadi sistem yang kami ikuti secara turun-temurun. Tahun ini 1 Syawal jatuh pada Selasa Pon, berdasarkan hitungan kalender Syattariyah,” ujar Darno, mengutip Radar Madiun.

Ia menambahkan bahwa meskipun berbeda dengan ketetapan pemerintah pusat yang menetapkan Idulfitri pada Senin (31/3), perbedaan itu sudah dianggap biasa.

Warga sekitar juga menghormati perbedaan tersebut tanpa ada gesekan.

“Perbedaan hari lebaran seperti ini sudah sering terjadi. Yang penting kami tetap menjaga hubungan baik dengan sesama dan tetap menjunjung nilai keislaman,” ungkapnya.

Sementara itu, suasana hangat terasa di Musala Al-Muslimun, Desa Tapen, Kecamatan Lembeyan.

Seusai salat Ied, para jemaah menikmati sajian lebaran bersama, menambah suasana keakraban antarwarga.

Tokoh Tarekat Syattariyah setempat, Jarkasi, mengungkapkan bahwa selama hidupnya, penetapan Idulfitri versi tarekatnya memang belum pernah bersamaan dengan keputusan pemerintah.

Meski demikian, perbedaan ini tidak menjadi persoalan.

“Sejak dulu kami merayakan Idulfitri berdasarkan perhitungan kami sendiri, dan itu tidak pernah menjadi masalah. Sesama umat Islam tetap bersaudara,” ucapnya. (ril/naz)

Editor : Mizan Ahsani
#lebaran #tarekat syattariyah #magetan #1 april #idul fitri