Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Ramalan Weton Sebut Dedi Mulyadi Keras Kepala! Kebijakan Jam Kerja Ramadan Dimentahi ASN Kota Bogor, Gubernur Jabar dalam Perspektif Jawa

Deni Kurniawan • Selasa, 4 Maret 2025 | 05:33 WIB
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi

JAWA POS RADAR LAWU - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dikenal sebagai pemimpin yang berani dan tegas. Namun, siapa sangka tradisi Jawa ternyata sudah lebih dulu menggambarkan karakter keras kepalanya. Keputusan Dedi Mulyadi soal penyesuaian jam kerja pejabat selama Ramadan ternyata mendapat penolakan dari ASN Kota Bogor, yang justru memilih tetap bekerja seperti biasa.

Dalam perhitungan Jawa, Dedi Mulyadi lahir pada 11 April 1971, dengan weton Minggu Wage, Mongso Kasadasa, dan Wuku Kuningan. Jika melihat karakter yang diramalkan berdasarkan perhitungan ini, tak heran jika kebijakan dan gaya kepemimpinannya kerap kontroversial.

Minggu Wage: Pemimpin Pekerja Keras, Tapi Susah Berubah

Orang yang lahir pada Minggu Wage dikenal memiliki hati yang pemurah dan mudah menaruh iba. Mereka adalah pekerja keras, yang selalu ingin melihat hasil nyata dari usaha mereka. Mereka bukan tipe pemimpin yang hanya memberi perintah tanpa turun langsung ke lapangan.

Namun, ada satu sifat dominan yang melekat pada orang berweton Minggu Wage: keras kepala dan sulit diubah pendapatnya. Sekali mengambil keputusan, mereka akan bertahan mati-matian, meskipun menghadapi banyak perlawanan.

Sifat ini bisa menjadi keunggulan sekaligus kelemahan. Di satu sisi, kepercayaan dirinya tinggi, sehingga tidak mudah goyah dalam mengambil kebijakan. Namun, di sisi lain, sulit bagi mereka untuk menerima masukan atau kritik, bahkan dari orang-orang di sekitarnya.

Tak heran jika kebijakan jam kerja selama Ramadan yang ditetapkan Dedi Mulyadi tetap dipertahankan meskipun mendapat reaksi beragam dari ASN di daerahnya.

Kasadasa: Tegas, Cerdas, Tapi Bisa Tertutup

Lahir dalam Mongso Kasadasa (27 Maret - 19 April), karakter Dedi Mulyadi juga dipengaruhi oleh Resi Bisma, sosok dalam pewayangan yang terkenal tegas, disiplin, dan rela berkorban demi kepentingan yang lebih besar.

Berprinsip kuat: Tidak mudah terpengaruh oleh pendapat orang lain.

Cerdas dan cepat mengambil keputusan: Mampu melihat solusi dari masalah dengan cepat.

Mandiri dan suka bekerja keras: Tidak suka bergantung pada orang lain.

Tidak mudah percaya kepada orang lain: Lebih suka mengandalkan insting dan pengalamannya sendiri.

Salah satu tantangan bagi orang Kasadasa adalah cenderung tertutup terhadap masukan orang lain. Mereka percaya bahwa keputusan mereka adalah yang terbaik, sehingga sulit bagi orang lain untuk mempengaruhi pemikirannya.

Kepribadian ini juga terlihat dalam kepemimpinan Dedi Mulyadi. Saat kebijakannya mendapat tantangan, ia tetap bertahan dengan keputusannya. Namun, hal ini bisa menjadi pedang bermata dua—di satu sisi ia dianggap tegas dan tak mudah goyah, di sisi lain ia bisa terlihat terlalu kaku dan kurang fleksibel.

Wuku Kuningan: Pemimpin Jujur, Berkarisma, dan Banyak Lawan

Dalam perhitungan Jawa, Dedi Mulyadi berada dalam Wuku Kuningan, yang dipengaruhi oleh Batara Endra—dewa dalam mitologi Jawa yang melambangkan kejujuran, keberanian, dan kepemimpinan yang bijaksana.

Karakter utama orang yang lahir dalam Wuku Kuningan:

Jujur dan tidak suka basa-basi – Selalu berbicara apa adanya, tanpa takut kontroversi.

Karismatik dan mudah menarik perhatian banyak orang – Bisa menjadi pemimpin yang disegani.

Senang menolong dan peduli pada rakyat kecil – Tidak heran jika sering terlihat turun langsung ke masyarakat.

Punya banyak pengagum, tapi juga banyak lawan – Karena kejujurannya, sering kali ada pihak yang merasa dirugikan.

Sifat ini sesuai dengan gaya kepemimpinan Dedi Mulyadi yang berani berbicara apa adanya dan sering kali berlawanan dengan kepentingan kelompok tertentu.

Maka, tidak heran jika kebijakan jam kerja selama Ramadan yang ia buat menuai perdebatan. Banyak yang mendukung, tetapi juga banyak yang menentang.

Dedi Mulyadi dalam Perspektif Ramalan Jawa: Pemimpin Keras Kepala dengan Prinsip Tegas

Berdasarkan weton, mongso, dan wuku, karakter Dedi Mulyadi menggambarkan pemimpin yang tegas, cerdas, dan tidak mudah dipengaruhi orang lain.

Ia percaya pada keputusan yang diambilnya dan akan bertahan meskipun ada perlawanan.

Gaya kepemimpinannya tegas dan tidak suka bertele-tele, tapi terkadang terlalu kaku.

Ia punya banyak pendukung karena kepeduliannya terhadap masyarakat, tapi juga banyak lawan karena kejujurannya.

Meskipun banyak kritik terhadap kebijakannya, ia tetap berpegang teguh pada prinsipnya.

Dalam kasus kebijakan jam kerja Ramadan yang ditolak ASN Kota Bogor, Dedi Mulyadi mungkin tidak akan langsung mengubah keputusannya. Sifat keras kepala yang dimilikinya bisa membuatnya tetap bertahan pada aturan yang sudah ia tetapkan.

Namun, apakah keteguhan hatinya akan membuatnya semakin disegani atau justru menghadapi lebih banyak perlawanan? Weton dan wuku sudah meramalkan karakternya, kini tinggal bagaimana ia mengelola sifat tersebut dalam kepemimpinannya. (den)

Editor : Deni Kurniawan
#WUKU #weton #kota bogor #ramalan #gubernur jawa barat #asn #jawa #jam kerja #dedi mulyadi