Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Angkuhnya Anak Buah Kades Kohod Kembali Picu Huru-hara Kasus Pagar Laut: Potong nih Leher Gue Kalau Arsin Ketangkap

Oktaviani Sindy • Jumat, 14 Februari 2025 | 22:37 WIB
Keangkuhan Kades Kohod dan misteri pelariannya menjadi sorotan dalam kasus pemalsuan sertifikat lahan pagar laut Tangerang.
Keangkuhan Kades Kohod dan misteri pelariannya menjadi sorotan dalam kasus pemalsuan sertifikat lahan pagar laut Tangerang.

Jawa Pos Radar Lawu – Nama Arsin bin Asip kembali menjadi perbincangan panas publik terkait kasus pagar laut. 

Sosok Kepala Desa Kohod itu mendadak menghilang sejak kasus dugaan pemalsuan sertifikat lahan pagar laut mencuat ke permukaan. 

Keberadaannya hingga kini masih misterius, sementara aroma keangkuhan orang-orang terdekatnya semakin memicu kontroversi.

"Enggak Ada yang Bisa Penjarain Gue," ujarnya.

Henri Kusuma, selaku penasihat hukum warga korban kasus pagar laut, mengungkapkan bagaimana Arsin dan para pengikutnya memandang enteng hukum. 

Dalam sebuah pertemuan, Arsin secara terang-terangan menunjukkan kesombongannya.

“Dia bilang sambil menepuk dada kiri, ‘Enggak ada yang bisa penjarain gue, sekalipun presiden,’” ujar Henri menirukan ucapan sang kepala desa. 

Ucapannya itu tak hanya mencerminkan keangkuhan, tetapi juga menjadi gambaran betapa kuatnya pengaruh Arsin di Desa Kohod.

Tak berhenti di situ, kesombongan Arsin pun seolah menular dan mandarah daging pada para pengawalnya. 

Salah satu anggota pasukan pengaman desa (paspamdes) bahkan menyatakan rela mengorbankan nyawanya.

“Bodyguard-nya bilang, ‘Iris kuping gue kalau Arsin ketangkap. Eh, jangan kuping deh, tapi leher aja, kalau kuping gue belum mati,’” ungkap Henri sembari menirukan ucapan pengawal tersebut.

Baca Juga: Terungkap Ini Daya Tarik Seorang Social Butterfly, Pantas Selalu Menjadi Pusat Perhatian

Selanjutnya, Henri Kusuma tak segan menyebut Arsin sebagai sosok yang snagat arogan.

Bahkan, warga Kohod melihatnya seperti monster yang harus diikuti apapun perintahnya.

“Kalau enggak diikuti, dia enggak segan mengerahkan preman atau tukang pukul.

Dia juga memperlakukan anak buahnya dengan rendah.

Misalnya, uang Rp200 ribu diselipkan di jempol kaki dan mereka disuruh mengambilnya.

Kalau dia ngelawak, anak buahnya harus ketawa, kalau ketawa baru dikasih uang,” papar Henri.

Selain itu, Aman Rizal, Ketua Gerakan Tangkap Arsin (Getar), menguatkan pernyataan tersebut. Ia juga menyebut Arsin sebagai figur arogan yang gemar pamer.

“Arsin terkenal arogan. Kalau dia memberi, selalu dipamerkan. Ini bukan hal baru,” ujar Aman Rizal.

Keberadaan Arsin Masih Misterius

Upaya untuk menemukan Arsin terus dilakukan namun, hingga kini keberadaannya belum diketahui.

Yunihar, selaku kuasa hukum Arsin, sebelumnya menyatakan kliennya masih berada di Indonesia.

Saat dilakukan penggeledahan, Arsin disebut sedang menghadiri agenda di luar kota.

“Kemungkinan beliau sedang ada agenda di luar kota,” kata Yunihar kepada awak media di Kawasan Pakuhaji, Kabupaten Tangerang.

Penyelidikan Terus Berlanjut

Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri, Brigjen Djuhandani Rahardjo Puro, memastikan penyelidikan terhadap Arsin terus berjalan. 

Menurut Djuhandani, Arsin telah diperiksa sebagai saksi dengan tetap mengedepankan asas praduga tak bersalah.

“Kami sudah memeriksa Kepala Desa sebagai saksi.

Selanjutnya, jika alat bukti sudah lengkap, kami akan segera melakukan gelar perkara untuk menentukan statusnya,” ujar Djuhandani.

Djuhandani juga menyebut pemeriksaan terhadap istri dan kerabat Arsin telah memberikan gambaran soal modus operasi pemalsuan sertifikat lahan. 

Dugaan kuat mengarah pada pembuatan dan penggunaan surat palsu untuk pengajuan ke kantor pertanahan Kabupaten Tangerang.

Dengan jejak yang ditinggalkan dan berbagai kesaksian warga, Arsin bin Asip kini menjadi simbol kebusukan kekuasaan di level lokal. (okta)

Editor : Riana M.
#Arsin #Kepala Desa Kohod #pengawal #angkuh #tangerang #Kasus Pagar Laut