Jawa Pos Radar Lawu – Peringatan Seabad Pramoedya Ananta Toer pada 6 Februari 2025 tidak hanya berlangsung di Indonesia, tetapi juga di Singapura.
Asia Research Institute (ARI) akan menggelar diskusi akademik di National University of Singapore (NUS).
Dikutip dari laman National University of Singapore, diskusi ini bertemakan : "Pramoedya Ananta Toer: Revisiting the Indonesian Author’s Work on the Centenary of His Birth".
Diskusi ini akan mengupas bagaimana pemikiran Pramoedya tetap relevan.
Terutama dalam menghadapi nasionalisme eksklusif yang kian menguat di berbagai negara.
Diskusi digelar pukul 16:00 – 17:30 SGT (waktu Singapura).
Sejumlah akademisi terkemuka akan hadir sebagai pembicara, di antaranya:
- Assoc Prof Sumit Mandal (NUS) – Sejarawan yang meneliti interaksi budaya di dunia Melayu.
- Dr Fathun Karib (NUS & UIN Jakarta) – Pakar sejarah energi, agraria, dan ekonomi politik bencana.
- Dr Nor Ismah (NUS) – Peneliti gender, Islam, dan otoritas perempuan di Asia Tenggara.
Mereka akan membahas bagaimana pemikiran Pramoedya dapat membantu memahami tantangan sosial-politik saat ini.
Termasuk isu identitas, nasionalisme, dan keadilan sosial.
Pramoedya dan Warisan Sastra yang Mendunia
Sebagai salah satu sastrawan terbesar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer dikenal lewat karyanya yang mengisahkan sejarah dan perjuangan rakyat kecil.
Salah satu mahakaryanya, Tetralogi Buru.
Karya itu menampilkan perjalanan nasionalisme Indonesia dari berbagai perspektif, termasuk peran etnis Tionghoa, Arab, Eropa, serta kelompok marginal seperti perempuan dan petani.
Karya-karyanya tidak hanya berpengaruh di Indonesia, tetapi juga menjadi bahan kajian global dalam diskusi tentang sejarah, identitas, dan keadilan sosial.
Peringatan Seabad Pramoedya di Blora
Di tanah kelahirannya, peringatan 100 tahun Pramoedya diisi dengan berbagai kegiatan, seperti:
- Pementasan teater & monolog,
- Bedah buku,
- Peresmian nama jalan,
- Ziarah ke makam Sang Maestro Sastra Indonesia.
Peringatan ini menjadi bukti bahwa warisan intelektual dan sastra Pramoedya tetap hidup, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di panggung dunia. (fin)
Editor : Andi Chorniawan