Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Perkara Nyawa, Wali Murid SMPN 7 Mojokerto Tolak Upaya Damai Pihak Sekolah, Kini Tempuh Jalur Hukum

Oktaviani Sindy • Sabtu, 1 Februari 2025 | 23:10 WIB
Tragedi Pantai Drini, Orang Tua Korban Tolak Pemintaan Damai, Polisi Terus Selidiki Unsur Kelalaian.
Tragedi Pantai Drini, Orang Tua Korban Tolak Pemintaan Damai, Polisi Terus Selidiki Unsur Kelalaian.

Jawa Pos Radar Lawu - Suasana duka mendalam menyelimuti rumah Yosep dan Istiqomah, orang tua dari Malvein Yusuf Adh Dhuqa, salah satu siswa SMPN 7 Mojokerto yang menjadi korban tewas dalam insiden tenggelam di Pantai Drini, Gunung Kidul, Yogyakarta. 

Sebuah video viral memperlihatkan keduanya dengan penuh emosi merobek surat permintaan damai yang disodorkan oleh pihak sekolah.

Surat tersebut diduga berisi permintaan agar insiden tragis tersebut tidak dibawa ke ranah hukum.

Namun, Yosep dengan tegas menolak, mengungkapkan kekecewaannya terhadap sikap para guru yang ia nilai kurang empati. 

“Mereka datang ke rumah duka, tapi tidak menunjukkan rasa belasungkawa yang tulus. Ini sungguh menyakitkan bagi kami yang baru saja kehilangan anak,” ujar Yosep dalam video yang beredar.

Malvein adalah satu dari empat siswa yang meninggal dunia dalam tragedi tersebut, yang terjadi pada Selasa, 28 Januari 2025. 

Hingga saat ini, pihak kepolisian masih mendalami unsur kelalaian dalam kejadian tersebut.

Selain itu, Polres Gunungkidul telah memanggil sejumlah pihak untuk dimintai keterangan, termasuk Kepala Sekolah SMPN 7 Mojokerto, Evi Poespito Hany. 

“Kami masih dalam proses penyelidikan dan belum ada penetapan tersangka,” jelas AKP Ahmad Mirza, Kasat Reskrim Polres Gunungkidul.

Evi Poespito Hany keluar dari ruang pemeriksaan pada pukul 17.05 WIB tanpa memberikan pernyataan kepada awak media.

Ia langsung masuk ke mobil yang telah menunggunya.

Selanjutnya, Mad Arif berusia 41 tahun, ayah dari Alfian Aditya Pratama, mengungkapkan kenangan terakhir bersama anak sulungnya. 

“Sebelum berangkat, dia minta dibelikan sandal putih bersih dan dompet baru. Saya antarkan ke pasar dekat rumah, dia memilih sendiri,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca.

Bahkan, Alfian juga sempat memotong rambut sehari sebelum keberangkatan. 

“Dia berangkat sendiri naik motor ke tempat potong rambut dekat rumah,” tambahnya.

Hal itu menjadi komunikasi terakhir mereka yang terjadi melalui video call saat Alfian berada di dalam bus.

 “Dia duduk di tengah bus, saya sempat merekam video waktu itu,” ujarnya. 

Mad Arif dan istrinya bahkan mengantarkan keberangkatan ombongan hingga ke sekolah. 

“Kami cari-cari bus tempat dia berada, tapi saya memilih di atas motor karena takut dia malu,” kenangnya.

Tragedi Pantai Drini meninggalkan luka mendalam bagi keluarga korban. Sementara itu, keluarga berharap keadilan dapat ditegakkan, agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang. (okta)

Editor : Riana M.
#terseret ombak #Tolak #damai #pantai drini #Polres Gunungkidul #SMPN 7 MOJOKERTO #pihak sekolah #orang tua korban