Jawa Pos Radar Lawu - Pramoedya Ananta Toer, atau yang lebih dikenal sebagai Pram, adalah salah satu sastrawan besar Indonesia yang karya-karyanya telah memberi dampak signifikan.
Khususnya bagi pemahaman sosial, ekonomi, dan politik bangsa Indonesia.
Menyambut peringatan seratus tahun kelahirannya pada tahun 2025, penting untuk kembali merefleksikan kontribusinya melalui karya-karya sastra yang menceritakan perjuangan bangsa Indonesia dari era kolonialisme hingga pasca kemerdekaan.
Pram mengangkat tema ketidakadilan sosial, neokolonialisme, dan feodalisme yang masih berkembang dalam masyarakat Indonesia pada awal kemerdekaan.
Dengan gaya penulisan yang jelas dan tanpa metafora rumit, ia mampu menyentuh berbagai kalangan pembaca, baik mereka yang mendalami sastra maupun yang tidak.
Estetika realisme sosialis yang digunakan Pram membuatnya berhasil menyoroti kondisi masyarakat Indonesia secara tajam dan lugas.
Menurut Arif Gumantia, Ketua Majelis Sastra Madiun, karya-karya Pram merupakan perjuangan untuk kemerdekaan, kesetaraan, dan melawan ketidakadilan.
Ini tidak hanya menjadi relevan untuk saat ini, tetapi juga penting untuk dibahas dan dianalisis kembali dalam diskursus ruang publik.
Sebagai bukti penting dari perjalanan bangsa, karya-karya Pram harus diperkenalkan lebih luas di berbagai jenjang pendidikan, mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi.
Hal ini tidak hanya untuk memperkenalkan estetika realisme sosialis, tetapi juga agar generasi muda dapat memahami sejarah perjuangan bangsa Indonesia melawan imperialisme dan kolonialisme.
Dalam konteks sastra, peringatan seabad Pramoedya Ananta Toer adalah kesempatan yang sangat penting untuk mendorong pendidikan literasi yang lebih beragam.
Dengan memahami karya-karya Pram, generasi penerus bangsa dapat belajar banyak tentang nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, serta perjuangan untuk kebebasan yang menjadi landasan kemerdekaan Indonesia.
Karya-karya Pramoedya seharusnya mulai diajarkan di berbagai tingkat pendidikan, mulai dari SD hingga perguruan tinggi.
Hal ini penting agar pelajar dan mahasiswa tidak hanya belajar satu bentuk estetika sastra, tetapi juga mengeksplorasi berbagai estetika lainnya, termasuk estetika realisme sosialis. Dengan demikian, dunia sastra tidak akan terjebak pada monopoli estetika tertentu.
Mempelajari karya-karya Pram juga memberikan kesempatan bagi generasi muda untuk belajar sejarah perjuangan bangsa dalam melawan imperialisme dan kolonialisme.
Dengan memahami peristiwa-peristiwa kelam dalam sejarah bangsa ini, kita dapat mencegah agar kesalahan serupa tidak terulang di masa depan. (fin)
Editor : Mizan Ahsani