MAGETAN, Jawa Pos Radar Lawu – Sebuah pesawat Nomad milik TNI AL resmi ditempatkan di Telaga Wahyu, Desa Dadi, Kecamatan Plaosan, Magetan Minggu (29/12/2024).
Kedatangan pesawat ini menjadi sorotan warga sekitar dan wisatawan. Proses pemindahan pesawat sejauh 300 meter dari jalan raya menuju lokasi landasan.
Proses itu dilakukan gotong royong secara manual didorong oleh personel TNI AL, petugas Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar), serta masyarakat.
"Pesawat itu didorong dari depan Rumah Makan Wahyu Wijaya ke lokasi landasan. Medannya cukup sulit karena berlumpur dan sempit, apalagi saat itu hujan rintik disertai angin kencang," ujar Joko Trihono, Kepala Disbudpar Magetan.
Inisiasi Panglima Armada Satu
Joko menjelaskan, kedatangan pesawat Nomad ini merupakan bagian dari inisiatif Panglima Komando Armada Satu, Laksamana Muda Yos Suryono Hadi, yang merupakan putra asli Magetan.
Bantuan ini bertujuan memperkuat edukasi bahari di kawasan tersebut.
Pesawat Nomad akan menjadi sarana pembelajaran sejarah TNI AL, terutama terkait peran Magetan sebagai embrio pusat operasi khusus TNI AL.
"Ini adalah awal dari rencana besar. Selain pesawat Nomad, akan ada kapal sekoci dan perangkat pendukung lainnya yang datang sebagai bagian dari pengembangan edukasi bahari di Telaga Wahyu," tambah Joko.
Rencana Pengembangan Edukasi Bahari
Joko mengungkapkan bahwa pesawat Nomad ini dapat digunakan untuk edukasi anak-anak dan wisatawan.
Para pengunjung bisa masuk ke dalam pesawat untuk melihat bagian-bagian aslinya. Sementara itu, satu pesawat Nomad lainnya yang direncanakan tiba di tahun depan akan dijadikan monumen.
"Pesawat ini akan digunakan untuk edukasi, termasuk penjelasan mengenai sejarah penggunaan pesawat Nomad oleh TNI AL. Semua fitur asli akan dipertahankan, kecuali mesinnya," jelas Joko.
Ke depan, Disbudpar Magetan akan terus berkolaborasi dengan TNI AL untuk mengembangkan kawasan Telaga Wahyu sebagai pusat edukasi bahari.
Rencananya, diorama sejarah TNI AL juga akan ditambahkan untuk menggambarkan perjalanan operasi khusus sejak era Sarangan hingga saat ini. (ril/kid)
Editor : Nur Wachid