Jawa Pos Radar Lawu - Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) melihat peluang tren merger dan akuisisi di industri asuransi terus berlanjut.
Tren ini didorong oleh regulasi dan strategi perusahaan untuk memperkuat industri asuransi nasional.
Namun, Direktur Utama Great Eastern General Insurance (GEGI), Aziz Adam Sattar, menyatakan bahwa hingga saat ini pihaknya belum berencana melakukan akuisisi atau merger.
“Sebagai perusahaan asuransi Kelompok Perusahaan Perasuransian Berdasarkan Ekuitas II, kami dapat menjangkau pasar lebih luas dan menawarkan produk unggulan yang lebih komprehensif,” jelas Aziz pada awak media Rabu, (30/10/2024).
Saat ini, sektor asuransi individual, ritel, serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tetap menjadi fokus utama GEGI.
Aziz mengakui pentingnya permodalan dalam industri asuransi, tetapi menurutnya, hal tersebut bukanlah satu-satunya penentu kekuatan perusahaan asuransi.
“Bisnis asuransi memiliki keunikan, di mana seleksi risiko dan penyebaran risiko melalui mekanisme reasuransi menjadi kunci. Perusahaan harus memiliki struktur reasuransi yang kuat agar dapat memenuhi kewajiban klaim dengan baik,” tambahnya.
Dengan manajemen risiko yang baik, perusahaan asuransi dapat menjadi lebih tangguh.
Selain itu, Industri asuransi diperkirakan tumbuh sekitar 10-18 persen per tahun, didukung proyeksi pertumbuhan ekonomi yang mencapai 5 persen.
Sejalan dengan aturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), GEGI optimistis memenuhi ekuitas minimum Rp 1 triliun di tahun 2028.
Untuk memenuhi ketentuan POJK 23/2023, ekuitas perusahaan asuransi minimal harus mencapai Rp 250 miliar pada 2026 dan Rp 500 miliar pada 2028 untuk KPPE I.
Direktur Marketing GEGI, Linggawati Tok, melaporkan bahwa hingga September 2024, perusahaan telah meraih pendapatan premi sebesar Rp 643 miliar dan optimis mencapai target premi Rp 760 miliar di akhir tahun.
Pendapatan premi terbesar berasal dari asuransi properti, marine cargo, rekayasa, liability, dan affinity.
GEGI mencatat pertumbuhan premi sebesar 17,9 persen per kuartal II 2024, mendekati rata-rata industri sebesar 18,4 persen (year-on-year).
Selain itu, Risk Based Capital (RBC) GEGI mencapai 329 persen pada kuartal III 2024, jauh di atas ketentuan minimum OJK sebesar 120 persen.
Ekuitas GEGI saat ini mencapai Rp 550 miliar, sesuai dengan persyaratan minimum modal pada tahun 2026, sehingga perusahaan optimis mencapai ekuitas Rp 1 triliun pada tahun 2028.
Kemudian, Aziz Adam Sattar turut menambahkan bahwa GEGI optimistis dengan prospek masa depan di Kelompok Perusahaan Perasuransian Berdasarkan Ekuitas II, didukung oleh komitmen kuat dari pemegang saham dan pertumbuhan premi secara organik. (okta)
Editor : Riana M.