Jawa Pos Radar Lawu - Sharlene Namira Valencia (SNV), seorang mahasiswi Universitas Ciputra (UC) Surabaya, yang bunuh diri dengan melompat dari lantai 22 gedung kampusnya, mengejutkan banyak pihak.
Peristiwa yang terjadi pada Rabu (18/9/2024) ini mengungkapkan sisi rentan generasi Z dalam menghadapi masalah mental.
Menurut psikolog Ananta Yudiarso, generasi Z lebih mudah mengalami depresi dan kecemasan, terutama karena mereka tumbuh di era digital yang penuh dengan ketidakpastian.
Keadaan ini sering diperparah oleh minimnya dukungan emosional dari lingkungan, serta kurangnya keterampilan dalam mengelola stres dan emosi negatif.
Generasi ini dianggap lebih terbuka dalam membahas isu kesehatan mental, namun belum tentu memiliki akses yang cukup untuk bantuan profesional.
Banyak di antara mereka yang menghadapi tekanan dalam membentuk identitas diri di tengah perubahan sosial yang cepat, yang bisa menyebabkan perasaan putus asa.
"Periode ini adalah fase eksplorasi identitas, tapi di dunia yang cepat berubah, banyak dari mereka yang merasa kesulitan menemukan stabilitas," kata Ananta dilansir Radar Lawu dari Radar Surabaya.
Dia juga menambahkan bahwa krisis identitas bisa memicu depresi dan keputusasaan, sehingga tak sedikit dari mereka yang memutuskan untuk mengakhiri hidup.
Tragedi Sharlene, yang diduga disebabkan oleh patah hati, mempertegas betapa pentingnya dukungan kesehatan mental bagi generasi Z.
Baca Juga: Diputus Pacar, Penyebab Mahasiswi UC Bunuh Diri Lompat dari Lantai 22 Gedung Kampus di Surabaya
Kurangnya dukungan dari keluarga atau lingkungan membuat mereka merasa kesepian, terutama di masa-masa sulit.
Ananta mengingatkan bahwa setiap individu dari generasi ini membutuhkan dukungan emosional yang cukup agar tidak merasa sendirian menghadapi masalah.
Menurut data, angka bunuh diri di kalangan generasi Z cukup tinggi, terutama pada usia 26 hingga 30 tahun.
Meskipun lebih terbuka terhadap isu kesehatan mental, akses ke terapi dan konseling masih menjadi masalah, terutama di wilayah dengan sumber daya kesehatan yang terbatas.
Sebagai penutup, Ananta mengingatkan masyarakat agar tidak membuat stigma negatif terhadap generasi Z.
"Yang kita tangkap adalah potensi kerentanan mereka di tengah perkembangan teknologi dan perubahan sosial yang sangat cepat," pungkasnya. (kid)