Jawa Pos Radar Lawu - Pavel Durov, pendiri dan CEO Telegram, kekayaannya dilaporkan mencapai USD 15,5 miliar atau setara Rp 238,7 triliun pada 2024.
Namun, di tengah kekayaannya yang melimpah, Durov justru menghadapi masalah besar setelah ditangkap di Paris di tengah ketegangan konflik Ukraina-Rusia.
Penangkapan Durov, yang dilakukan di Bandara Bourget pada Sabtu malam (23/8/2024).
Insiden itu menimbulkan spekulasi terkait perannya dalam penyebaran informasi melalui Telegram selama konflik tersebut.
Telegram, yang dikenal dengan enkripsi ketatnya, telah menjadi platform penting bagi berbagai pihak dalam menyampaikan informasi yang tidak difilter di wilayah konflik.
Polisi Prancis menangkap Durov dengan dugaan kurangnya moderasi di Telegram, yang diduga memungkinkan aktivitas kriminal berlanjut tanpa pengawasan.
Namun, beberapa analis percaya bahwa insiden ini memiliki hubungan lebih dalam dengan peran Telegram dalam geopolitik dan informasi global.
Kekayaan Durov yang fantastis dan posisinya sebagai pemimpin perusahaan teknologi global semakin memperumit situasi ini.
Kementerian Luar Negeri Rusia pun langsung bereaksi, menyatakan bahwa mereka tengah mengklarifikasi situasi ini dan mendesak pembebasan Durov.
Baca Juga: Profil Polwan Putri Cikita, Video Viral Polisi Cantik, Netizen Bereaksi
Penangkapan Pavel Durov, di tengah kekayaannya yang terus melonjak, menunjukkan bahwa pengaruh besar dalam dunia digital juga membawa risiko tinggi.
Terutama di tengah konflik geopolitik yang semakin kompleks seperti Ukraina-Rusia. (kid)
Editor : Nur Wachid