Jawa Pos Radar Lawu - Baru-baru ini kasus pelajar SMP di Pacitan bunuh diri ditemukan di kamarnya mengundang keprihatinan dan perhatian publik.
Belum diketahui secara pasti penyebab pelajar tersebut melakukan tindakan bunuh diri. Kendati keluarga telah menerima kejadian tersebut, penting untuk mengenali berbagai faktor penyebab bunuh diri.
Atika Dian Ariana, MSc MPsi, pakar kesehatan mental dari Universitas Airlangga (UNAIR), menjelaskan bahwa penyebab bunuh diri dapat dikategorikan berdasarkan aspek Biologis, Psikologis, dan Sosial (biopsikososial).
Menurut Atika, dari aspek biologis, seseorang mungkin memiliki masalah fisik seperti gangguan jantung atau hormonal yang membuatnya merasa tidak berdaya.
Sementara secara psikologis, individu tersebut mungkin memiliki kerentanan untuk merasa tidak berarti.
"Secara sosial, kegagalan dalam menjalin hubungan atau merasa tidak diterima oleh kelompok dapat menyebabkan depresi," ungkap Atika seperti dilansir unair.ac.id dari Jawa Pos.
Faktor-Faktor Penyebab Bunuh Diri
Berdasarkan ketiga aspek tersebut, Atika menyoroti bahwa faktor terdekat dalam kasus bunuh diri adalah depresi dan masalah sosial.
Khususnya bagi remaja dan mahasiswa, pertemanan merupakan faktor sosial yang sangat penting.
Hubungan pertemanan tidak hanya mendukung keberlangsungan akademik, tetapi juga penting untuk proses pendewasaan diri.
"Proses transisi dari remaja ke dewasa awal harus diisi dengan relasi sosial dan interpersonal yang intim," jelas Atika.
Namun, jika ada teman atau saudara yang memiliki pikiran untuk bunuh diri, ada beberapa langkah pencegahan yang bisa dilakukan:
-
Jauhkan Hal-Hal Berisiko
Pikiran atau niat bunuh diri memerlukan penanganan segera. Pastikan lingkungan sekitar aman dari benda tajam, ketinggian, racun, dan hal-hal lain yang berisiko.
-
Berikan Dukungan dan Libatkan Profesional
Pastikan individu tersebut tidak sendirian dan mendapatkan dukungan sosial. Peran keluarga dan teman sangat penting. Jika diperlukan, libatkan profesional seperti psikolog atau psikiater. Di beberapa kampus, seperti UNAIR, tersedia layanan psikologis yang dapat membantu.
Atika juga menekankan pentingnya mencari bantuan segera jika seseorang memiliki pikiran untuk bunuh diri.
"Carilah bantuan dengan berbicara kepada orang yang dipercaya atau melakukan konseling dengan profesional. Kampus-kampus memiliki pusat layanan psikologi seperti Unit Pelayanan Psikologi (UPP) di UNAIR," tambahnya.
Selain itu, Atika menyarankan untuk memberikan afirmasi positif kepada diri sendiri bahwa hidup adalah berkah yang layak diperjuangkan.
"Mulailah menerapkan gaya hidup sehat, perhatikan diri sendiri, dan fokus pada hal-hal bermanfaat yang membuat hidup lebih bermakna," pesan alumnus Global Mental Health University of Glasgow ini. (kid)
Editor : Nur Wachid