Jawa Pos Radar Lawu - Sejak Daftar Pencarian Orang (DPO) diunggah oleh instagram Polda Jawa Barat, postingan itu berhasil menghimpun delapan ribu komentar kontra.
Komentar tersebut dilayangkan karena unggahan poster DPO oleh Polda Jawa Barat terlihat tidak niat mencari tiga tersangka pelaku pembunuhan Vina membuntut film Vina Sebelum 7 Hari.
Memang dalam unggahan tersebut hanya terdapat ilustrasi pria mengenakan topi bak koboi, sehingga disayangkan oleh netizen.
Terlampau cerdik, netizen menutut untuk menunjukkan/ merilis foto atau sketsa wajah ketiga pelaku dari tim forensik ketimbang menyebutkan ciri-ciri pelaku.
Bila memang pihak kepolisian berniat untuk menghambat pergerakan, melakukan rilis DPO dengan modal menyebutkan ciri-ciri pelaku saja memang cukup sulit dan mustahil dikenali.
Terlebih ciri-ciri yang disebutkan terlalu umum, apalagi ditambah usia pelaku yang bertambah memberikan kemungkinan besar ciri-cirinya pun ikut berubah.
Bahkan ada yang mengusulkan untuk melakukan introgasi ulang terhadap pelaku yang sudah tertangkap.
Dengan membandingkan penangkapan kelompom teoris seperti Imam S, Amrozi, Ali Imron, Noordin M Top dan kawan-kawan, kepolisian dianggap tidak benar-benar niat menguak tabir di belakang kasus vina yang tragis.
Netizen juga membandingkan dengan kasus Bom Bali. Hanya bermodalkan nomor rangka kendaraan saja, pelaku dapat di temu.
Tetapi pada kasus vina seakan sangat susah, padahal pelakunya hanya geng motor, sehingga meninggalkan kejanggalan yang amat jelas.
Kasus Vina belum selesai sedari delapan tahun lalu, namun ditutup begitu saja dan membuat tiga pelaku lainnya tersenyum bebas di luar sana.
Mengingat salah satu pelaku memiliki latar belakang sebagai anak pemaku kepentingan, kasus ini seakan memang sengaja ditutup tutupi.
Bahkan 100% kemungkinan kasus Vina tidak akan mendapat tindak lanjut dari pihak terkait bila film Vina Sebelum 7 Hari tidak dibuat dan menjadi viral.
Sehingga dari hal tersebut meninggalkan pertanyaan besar dari masyarakat terkait kinerja kepolisian Indonesia, mengingat banyak kasus yang sering terjadi, baik di ranah kepolisan sendiri atau kasus lain yang sengaja ditutupi oleh pihak polisi karena menyeret nama besar di belakangnya. (riz/kid)
Editor : Nur Wachid