Jawa Pos Radar Lawu – Pemilu 2024 membuat sebagian kecil masyarakat Indonesia psikologisnya terguncang.
Berdasarkan penelitian Kaukus Masyarakat Peduli Kesehatan Jiwa, 16 persen masyarakat Indonesia merasa cemas dan 17,1 persen depresi usai Pemilu 2024.
Kondisi cemas dan depresi tidak hanya terjadi pada caleg gagal terpilih, melainkan juga masyarakat umum.
‘’Ada temuan prevalensi kecemasan dan depresi di Indonesia pasca pemilu lebih tinggi dibandingkan hasil Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) 2018,’’ kata Ketua Tim Peneliti dr Ray Wagiu Basrowi sebagaimana diberitakan JawaPos.com, Rabu (28/2).
Sekitar 9,8 persen masyarakat Indonesia mengalami kecemasan dan 6 persen depresi berdasarkan Riskesdas 2018.
Ray meyakini penelitiannya valid untuk memotret kondisi masyarakat pasca pesta demokrasi lima tahunan.
Survei memiliki tingkat kepercayaan 95 persen dan margin of error 2 persen. ‘’Jumlah responden 1.077 orang dengan usia 17 tahun ke atas atau yang sudah memilih,’’ ungkapnya.
Responden berasal dari 29 provinsi dan luar negeri. Provinsi yang banyak mengisi survei meliputi Jawa Barat, Jakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.
Angket penelitian disebar secara acak melalui media sosial. Penyebaran random itu menjaring 55 responden caleg dan 80 keluarga inti caleg.
Menurut Ray, terdapat konflik internal dan eksternal yang memicu gangguan jiwa pada responden. Dari sisi internal, kegelisahan memilih calon menjadi pemicu gangguan jiwa.
Sementara perbedaan politik dengan orang lain menjadi pemicu konflik eksternal. ‘’Kami juga menemukan adanya tekanan pihak luar selama pemilu dan itu dianggap mengganggu,’’ kata ketua Health Collaborative Center (HCC) tersebut.
Bentuk tekanan itu berupa ajakan, seruan, paksaan, dan bahkan kiriman materi media sosial. Pelakunya paling banyak berasal dari keluarga. Hal itu juga mengakibatkan depresi dan cemas.
Nila F. Moeloek, inisiator Kaukus Masyarakat Peduli Kesehatan Jiwa, menilai temuan perlu ada intervensi dan mitigasi khusus di masyarakat. Supaya kecemasan dan depresi tidak semakin berat.
‘’Karena kita ketahui kecemasan dan depresi ini pintu masuk untuk gangguan jiwa serius, bahkan bisa fatal. Jadi dicegah,” ungkap menteri kesehatan 2014–2019 itu. (lyn/c7/fal/cor)
Editor : Andi Chorniawan