Bukan Sekadar Penunjuk Waktu, Smartwatch Kini Jadi Teman Aktivitas dan Kesehatan

Tim Content Writer Radar Lawu • Dipublikasikan Jumat, 18 September 2026 | 13:15 WIB
Jam Tangan Sebagai Fashion Item Sekaligus Perangkat Kesehatan. Foto: Engadget
Jam Tangan Sebagai Fashion Item Sekaligus Perangkat Kesehatan. Foto: Engadget

Jawa Pos Radar Lawu - Jam tangan dahulu cukup menjalankan satu tugas sederhana menunjukkan waktu. Kini, benda yang melingkar di pergelangan tangan itu memiliki fungsi yang jauh lebih beragam.

Di dalam perjalanan menggunakan kereta, saat berolahraga, bekerja di kantor, hingga duduk santai di kedai kopi, smartwatch semakin mudah ditemui.

Layar kecil di pergelangan tangan kini bukan hanya soal gaya. Ada jumlah langkah yang dihitung, kualitas tidur yang dipantau, detak jantung yang diperiksa, notifikasi pesan yang masuk, sampai musik yang bisa diatur tanpa harus mengeluarkan ponsel dari saku.

Perubahan tersebut menunjukkan bagaimana smartwatch perlahan masuk ke dalam kebiasaan masyarakat modern. Perangkat yang awalnya dikenal sebagai aksesori teknologi kini mulai dipandang sebagai alat bantu untuk menjalani aktivitas sehari-hari.

Secara global, perkembangan pasar smartwatch juga masih menunjukkan pertumbuhan. Berdasarkan laporan Counterpoint Research pada kuartal pertama 2026, pengiriman smartwatch dunia meningkat 4 persen secara tahunan atau year on year.

Pertumbuhan itu salah satunya didorong oleh semakin banyaknya perangkat premium yang menawarkan fitur pemantauan kesehatan lebih lanjut. Apple masih menjadi salah satu pemain utama dengan pangsa pasar 23 persen, disusul Huawei sebesar 17 persen.

Di Indonesia, persaingan tersebut memiliki karakter tersendiri. Salah satu medan persaingan yang cukup ketat berada pada kelas harga menengah, terutama smartwatch dengan banderol Rp2 juta hingga Rp3 juta.

Berdasarkan data platform riset pasar dan penyedia analitik e-commerce Markethac pada Maret, segmen tersebut menyumbang 14,43 persen dari pasar smartwatch. Sementara total gross merchandise value atau GMV pasar smartwatch tercatat sekitar Rp1,26 triliun.

Pada rentang harga tersebut, Huawei dan Garmin menjadi dua merek yang mendominasi. Huawei mencatat pangsa pasar 44,77 persen dengan penjualan sekitar 32.400 unit. Garmin berada di posisi berikutnya dengan pangsa 38,8 persen dan penjualan sekitar 26.800 unit.

Baca Juga: WS Lucent Digital Watch, Jam Tangan Anti Air EIGER Women dengan Fitur Lengkap untuk Perempuan Aktif

Jika digabungkan, kedua merek tersebut menguasai lebih dari 80 persen pangsa GMV pada segmen Rp2 juta hingga Rp3 juta. Merek lain seperti Xiaomi, Samsung, dan Apple kemudian bersaing mendapatkan bagian pasar yang tersisa.

Namun, angka penjualan bukan satu-satunya cerita di balik semakin populernya smartwatch. Bagi pengguna, perangkat tersebut memiliki fungsi yang bersentuhan langsung dengan rutinitas.

Notifikasi WhatsApp dan LINE juga dapat dilihat dengan cepat melalui pergelangan tangan. Fungsi tersebut membuat smartwatch bukan hanya menjadi perangkat untuk mencatat aktivitas fisik, tetapi juga membantu pengguna tetap terhubung tanpa harus terus memegang ponsel.

Fitur pengingat dan gamifikasi menjadi salah satu bagian yang ikut mendorong kebiasaan tersebut. Target langkah, pencapaian aktivitas, maupun catatan olahraga membuat pengguna memiliki indikator sederhana untuk melihat rutinitas mereka dari waktu ke waktu.

Ada pula kepuasan tersendiri ketika berbagai metrik tubuh dapat dilihat secara langsung. Detak jantung, jumlah langkah, hingga kalori yang terbakar menjadi data yang sebelumnya tidak mudah diperoleh dalam aktivitas sehari-hari.

Dari sinilah smartwatch kemudian berkembang menjadi lebih dari sekadar perangkat penunjuk waktu. Data yang dikumpulkan membuat sebagian pengguna merasa lebih terhubung dengan aktivitas tubuhnya sendiri.

Meski begitu, perkembangan tersebut bukan berarti tanpa persoalan. Akurasi data kesehatan masih menjadi salah satu tantangan yang perlu diperhatikan.

Karena itu, data dari smartwatch lebih tepat ditempatkan sebagai informasi pendukung untuk memahami aktivitas sehari-hari. Perangkat tersebut tidak serta-merta menggantikan pemeriksaan atau penilaian medis.

Ke depan, perkembangan smartwatch diharapkan tidak berhenti sebagai tren teknologi yang mengikuti perubahan gaya hidup. Perangkat ini juga berpotensi menjadi alat pendukung kebiasaan sehat apabila dikembangkan dengan memperhatikan aspek keamanan, akurasi, dan pemanfaatan data.

Pada akhirnya, perubahan fungsi jam tangan menggambarkan perubahan kebutuhan penggunanya. Masyarakat tidak lagi hanya membutuhkan perangkat yang menunjukkan waktu atau menjadi pelengkap penampilan.

Baca Juga: Jam Tangan Militer Princeton Tactical Jadi Andalan Aktivitas Outdoor, Simak Spesifikasi dan Fiturnya

Mereka juga mencari perangkat yang bisa membantu mengatur aktivitas, menjaga koneksi dengan ponsel, sekaligus memberi gambaran mengenai kebiasaan tubuh setiap hari.

Dari layar kecil di pergelangan tangan, muncul kebiasaan baru. Smartwatch kini menjadi bagian dari perjalanan, olahraga, pekerjaan, hingga waktu santai. Dari gaya ke guna, jam tangan pintar perlahan menemukan tempatnya sendiri dalam keseharian masyarakat Indonesia.(*)

(Azarine Nirwasita Zada, Magang Politeknik Negeri Madiun)

Editor : Tim Content Writer Radar Lawu
Sumber : Antaranews.com, berbagai sumber
Smartwatch Indonesia Tren Smartwatch 2026 smartwatch jam tangan pintar