Jawa Pos Radar Lawu - Sulit menemukan orang yang tidak mengenal LEGO. Balok-balok plastik berwarna-warni ini telah menjadi bagian dari masa kecil jutaan orang di seluruh dunia. Namun, di balik kesuksesannya saat ini, LEGO ternyata pernah berada di ambang kebangkrutan.
Bahkan, banyak yang mengira perusahaan asal Denmark itu tidak akan mampu bertahan menghadapi perubahan zaman. Alih-alih menghilang, LEGO justru bangkit dan kini menjadi salah satu merek mainan paling bernilai di dunia.
Bagaimana kisahnya?
Berawal dari Bengkel Kayu Kecil
Perjalanan LEGO dimulai pada 1932 ketika Ole Kirk Christiansen, seorang tukang kayu asal Denmark, mulai membuat mainan dari kayu.
Nama LEGO berasal dari bahasa Denmark, yaitu "Leg Godt", yang berarti "bermain dengan baik".
Filosofi tersebut menjadi dasar perusahaan hingga sekarang, yaitu menghadirkan mainan yang mampu merangsang kreativitas dan imajinasi.
Balok Plastik yang Mengubah Segalanya
Pada akhir 1940-an, LEGO mulai bereksperimen menggunakan plastik, sebuah keputusan yang kala itu dianggap berisiko.
Beberapa tahun kemudian lahirlah sistem balok LEGO yang saling mengunci (interlocking bricks). Desain sederhana itu memungkinkan setiap balok disusun menjadi ribuan bentuk berbeda.
Menariknya, balok LEGO modern masih kompatibel dengan balok yang diproduksi puluhan tahun lalu. Artinya, koleksi lama tetap bisa digunakan bersama produk terbaru.
Nyaris Bangkrut di Awal 2000-an
Meski sempat mendominasi industri mainan, LEGO menghadapi masa sulit pada awal tahun 2000-an.
Perusahaan memperluas bisnis ke berbagai bidang, mulai dari taman hiburan, pakaian, hingga produk yang dianggap terlalu jauh dari identitas utamanya. Strategi tersebut membuat biaya operasional meningkat sementara penjualan tidak tumbuh sesuai harapan.
Pada 2003, kondisi keuangan LEGO memburuk dan perusahaan menghadapi ancaman serius.
Fokus Kembali pada Kreativitas
Alih-alih terus berekspansi, LEGO memilih kembali ke kekuatan utamanya: balok konstruksi.
Perusahaan menyederhanakan lini produk, memperbaiki proses produksi, dan lebih banyak mendengarkan masukan dari komunitas penggemar.
Keputusan tersebut menjadi titik balik yang membawa LEGO kembali meraih keuntungan.
Bukan Lagi Sekadar Mainan Anak
Saat ini, LEGO tidak hanya ditujukan untuk anak-anak.
Komunitas Adult Fans of LEGO (AFOL) terus berkembang di berbagai negara. Banyak orang dewasa menjadikan LEGO sebagai hobi, koleksi, bahkan media untuk mengekspresikan kreativitas.
Beberapa set edisi khusus memiliki ribuan keping dan dirancang khusus untuk kolektor dewasa.
Kolaborasi dengan Waralaba Besar
Kesuksesan LEGO juga didukung oleh berbagai kolaborasi.
Perusahaan menghadirkan set bertema Star Wars, Harry Potter, Marvel, DC, Jurassic World, hingga berbagai ikon otomotif seperti Ferrari, Lamborghini, dan Porsche.
Kolaborasi tersebut membuat LEGO mampu menjangkau berbagai kelompok usia dan minat.
Bukan Sekadar Bermain
Banyak penelitian menunjukkan bahwa permainan konstruksi dapat membantu melatih kreativitas, kemampuan memecahkan masalah, koordinasi motorik, hingga kerja sama.
Karena itu, LEGO juga sering dimanfaatkan dalam dunia pendidikan sebagai media belajar yang interaktif.
Menjadi Bagian dari Budaya Populer
Kini LEGO bukan hanya dikenal sebagai produsen mainan.
Perusahaan telah merambah dunia film, video game, hingga berbagai pameran internasional yang menampilkan karya-karya luar biasa dari jutaan keping balok.
Dari sebuah bengkel kayu kecil di Denmark, LEGO berkembang menjadi simbol kreativitas yang dikenal hampir di seluruh dunia.
Kesuksesan LEGO membuktikan bahwa ide sederhana dapat bertahan menghadapi perubahan zaman jika terus berinovasi tanpa kehilangan identitasnya.
Roofy Chesta Adabi - Universitas Negeri Surabaya
Editor : Tim Content Writer Radar Lawu