Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Lonjakan Penjualan Mobil Listrik di Indonesia: Pakar Ingatkan Ancaman Limbah Baterai dan Solusi Cerdasnya

Rimba Febriani • Minggu, 21 Desember 2025 | 18:55 WIB
Penjualan EV melonjak, tapi limbah baterai jadi ancaman. Second life battery dan paspor baterai digital jadi solusinya.
Penjualan EV melonjak, tapi limbah baterai jadi ancaman. Second life battery dan paspor baterai digital jadi solusinya.

Jawa Pos Radar Lawu - Penjualan kendaraan listrik (EV) di Indonesia terus meroket dalam dua tahun terakhir, seiring meningkatnya kesadaran masyarakat akan gaya hidup ramah lingkungan dan efisiensi energi. Namun, di balik euforia ini muncul tantangan serius: limbah baterai EV yang bisa berdampak buruk bagi lingkungan jika tidak dikelola dengan tepat.

Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, menekankan pentingnya kesiapan menghadapi potensi limbah baterai, khususnya baterai Lithium Ferro Phosphate (LFP) yang tingkat daur ulangnya relatif rendah. “Pertumbuhan pengguna EV di Indonesia perlu diimbangi dengan persiapan menghadapi potensi limbah baterai agar tidak berdampak buruk bagi lingkungan,” ujarnya.

Second Life Battery: Solusi Berkelanjutan

Salah satu inovasi yang menjanjikan adalah konsep second life battery. Baterai EV yang sudah tidak optimal untuk kendaraan dapat dimanfaatkan kembali sebagai Battery Energy Storage System (BESS). Sistem ini menyimpan energi dari pembangkit listrik tenaga surya, menjaga stabilitas jaringan listrik, dan mendukung transisi energi terbarukan.

Keberhasilan strategi ini membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, produsen otomotif, dan pemangku kepentingan global. Yannes juga menekankan pentingnya regulasi Extended Producer Responsibility (EPR) serta insentif untuk investasi daur ulang baterai. Selain melindungi lingkungan, pendekatan ini membuka peluang ekonomi baru melalui pengolahan material kritis seperti nikel, kobalt, dan lithium.

Paspor Baterai Digital

Langkah penting lain adalah paspor baterai digital, sistem yang mencatat jejak baterai dari produksi hingga daur ulang. “Paspor baterai digital memastikan produsen EV bertanggung jawab penuh atas baterai yang mereka jual,” jelas Yannes. Transparansi ini menjaga kedaulatan material strategis Indonesia sekaligus mencegah kebocoran sumber daya bernilai tinggi ke luar negeri.

Respons Produsen: BYD Siap Kelola Limbah

Menanggapi isu ini, BYD Indonesia menegaskan kesiapan mereka dalam pengelolaan limbah baterai. Head of Public and Government Relations BYD, Luther Pandjaitan, menyebut perusahaan telah menguasai teknologi baterai dari hulu ke hilir selama lebih dari 30 tahun. “Kami tidak hanya memproduksi kendaraan, tapi juga baterainya. Teknologi pengelolaan limbah sudah kami kuasai,” ujarnya. Dengan garansi baterai hingga delapan tahun, BYD menilai masih ada waktu untuk menyiapkan sistem pengelolaan limbah secara optimal.

Populasi EV di Indonesia Terus Naik

Data Gaikindo menunjukkan jumlah mobil listrik berbasis baterai meningkat tajam, dari 15.318 unit pada 2023 menjadi 43.188 unit pada 2024, dan hingga Agustus 2025 mencapai 51.191 unit. Lonjakan ini menegaskan EV bukan sekadar tren, tetapi bagian dari gaya hidup modern.

Namun, tanpa strategi pengelolaan limbah baterai yang matang, manfaat lingkungan EV justru berisiko menjadi masalah baru. Tantangan terbesar kini bukan hanya penjualan kendaraan listrik, tetapi memastikan seluruh ekosistemnya benar-benar berkelanjutan. (fin)

 

Editor : AA Arsyadani
#kendaraan listrik #baterai mobil listrik #limbah baterai #mobil listrik