Jawa Pos Radar Madiun - Batik tidak hanya menjadi warisan budaya Indonesia yang kaya makna, tetapi juga simbol dedikasi para perajinnya.
Di balik setiap goresan motif terdapat cerita, salah satunya datang dari Batik Bogor Tradisiku, UMKM asal Kota Bogor yang kini sukses membawa karya lokal ke panggung internasional.
Berawal Dari Empati Hingga Menjadi Brand Global
Dibentuk pada 15 Januari 2008, Batik Bogor Tradisiku lahir dari kepedulian keluarga Lisha Luthfiana.
Setelah gempa hebat melanda Yogyakarta pada 2006, keluarganya memutuskan membantu para perajin batik yang kehilangan mata pencaharian dengan memboyong mereka ke Bogor agar tetap dapat bekerja.
Dari aksi sederhana itu, terciptalah usaha batik yang kini berkembang pesat.
Batik Bogor Tradisiku memproduksi berbagai produk mulai dari pakaian batik, tas, aksesoris, hingga pot keramik bermotif batik.
“Kami selalu melayani pesanan, baik dalam jumlah kecil maupun besar, dengan warna dan kualitas terbaik,” ujar Lisha dilansir dari Temumkm.com.
Menembus Pasar Internasional Lewat Ciri Khas Indonesia
UMKM yang berlokasi di Warung Jambu, Bogor ini awalnya dikenal oleh turis asing melalui galeri dan pemandu wisata lokal.
Banyak wisatawan datang langsung ke gerai mereka untuk membawa pulang batik khas Bogor sebagai suvenir penuh nilai budaya.
Langkah internasional semakin terbuka ketika pada 2012–2013, Lisha mendapat kesempatan kolaborasi dengan desainer Jepang melalui program kerja sama Kementerian Perindustrian dan JETRO.
“Kami membuat batik dengan sentuhan khas Jepang—warna indigo, putih, dan motif yang lebih sederhana. Dari situ saya belajar, bahwa setiap negara punya cara pandang berbeda terhadap keindahan,” kenangnya.
Ia juga berhasil mengekspor pot keramik mozaik batik ke Belanda, meski harus melalui proses pengiriman yang rumit dan mahal karena pengemasan kayu untuk menjaga kualitas produk.
Kini, karya Batik Bogor Tradisiku telah terbang hingga Australia, Malaysia, Singapura, dan Belanda.
Brand mereka bahkan sudah masuk database kedutaan Indonesia di berbagai negara, bukti bahwa produk lokal mampu bersaing di tingkat global.
Tantangan Besar: Cuaca, Biaya Produksi, dan Keterbatasan Bahan
Perjalanan Batik Bogor Tradisiku tidak selalu mulus.
Dalam hampir dua dekade beroperasi, Lisha harus menghadapi banyak hambatan: mulai dari harga bahan baku yang naik turun, UMK Bogor yang tinggi, hingga cuaca Bogor yang sering hujan.
“Di Bogor, sulit mencari bahan baku seperti mori dan obat warna, jadi kami harus beli ke Jakarta. Itu menambah biaya,” katanya.
Ia juga menjelaskan pentingnya menyesuaikan pilihan warna dengan kondisi cuaca.
“Kalau sedang musim hujan, sebaiknya hindari warna pink karena mudah rusak. Gunakan warna biru yang lebih stabil.”
Namun berkat konsistensi dan ketelitian, Batik Bogor Tradisiku tetap dipercaya pelanggan lokal maupun internasional.
Visi Besar: Jaga Budaya, Bangkitkan Ekonomi Lokal
Lisha percaya bahwa perkembangan UMKM sangat bergantung pada sinergi dengan pemerintah.
Ia berharap ada dukungan berupa standarisasi bahan baku dalam negeri, pameran yang tepat sasaran, serta fasilitasi komunikasi langsung dengan calon pembeli internasional.
“Kalau bahan baku lokal bisa bersaing, otomatis pertumbuhan UMKM juga meningkat. Walau kain lokal lebih mahal daripada impor, kualitas dan identitasnya jauh lebih kuat,” ujarnya.
Baginya, Batik Bogor Tradisiku bukan sekadar bisnis, tetapi misi untuk melestarikan budaya dan memperkenalkan identitas Indonesia ke dunia.
Dari Bogor untuk Dunia
Kisah Batik Bogor Tradisiku menunjukkan bahwa empati, ketekunan, dan kecintaan pada budaya mampu menciptakan peluang besar.
Lisha Luthfiana telah membuktikan bahwa UMKM dapat melampaui batas, membawa nama Indonesia hingga mancanegara.
“Selama kita terus berkarya dengan hati, dunia akan melihat keindahan yang kita ciptakan.” (fin)
Editor : AA Arsyadani