Jawa Pos Radar Lawu – Media sosial tengah digemparkan oleh video viral yang memperlihatkan sosok Muhammad Badru, penyandang disabilitas yang dikenal luas di TikTok dengan julukan Badru Kepiting, menjadi korban penghinaan oleh seorang oknum suporter di laga Persebaya Surabaya vs Persija Jakarta di Stadion Gelora Bung Tomo, Sabtu (18/10/2025).
Dalam video yang tersebar luas di TikTok dan X (Twitter), tampak seorang pria merekam dirinya sambil menertawakan kondisi fisik Badru. Ia menyebut kata-kata ejekan bernada merendahkan seperti “kepiting Alaska”, yang sontak menuai kecaman dari netizen.
Banyak yang menilai aksi tersebut bukan hanya tidak pantas, tetapi juga termasuk bentuk perundungan terhadap penyandang disabilitas.
Tak lama setelah video itu viral, ibu Badru, Badriah, turut memberikan tanggapan.
Dalam sebuah wawancara, ia tampak menangis terisak menyaksikan anaknya menjadi bahan olok-olok di depan publik. “Saya hanya ingin anak saya dihargai, jangan dihina seperti itu,” ujarnya lirih.
Kejadian ini memicu gelombang simpati di dunia maya. Banyak warganet menyuarakan dukungan bagi Badru dan mendesak pelaku agar segera meminta maaf secara terbuka. Tagar #MaafUntukBadru bahkan sempat menjadi trending di TikTok dan X.
Menanggapi kecaman publik, pelaku yang diketahui sebagai seorang selebgram dan oknum suporter akhirnya muncul di media sosial untuk menyampaikan permintaan maaf.
Ia mengaku menyesal atas tindakannya dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatan serupa.
“Saya minta maaf kepada Badru dan keluarganya. Itu murni kekhilafan saya, bukan untuk menghina,” katanya dalam unggahan klarifikasi.
Pihak keluarga Badru telah menerima permintaan maaf tersebut, namun banyak masyarakat menilai tindakan semacam ini seharusnya menjadi pelajaran penting agar tidak ada lagi penghinaan terhadap siapa pun, terutama kaum disabilitas.
Kejadian ini menjadi pengingat keras bagi publik tentang batas etika dalam mendukung klub sepak bola maupun bersosial media.
Fanatisme berlebihan tidak seharusnya berubah menjadi kebencian atau ejekan yang melukai hati orang lain. (hamid-mg-uinpo/kid)
Editor : Nur Wachid