Jawa Pos Radar Lawu - Jazz Gunung Bromo 2025 hadir bukan sekadar festival musik, tapi penggerak budaya, ekonomi, dan pariwisata Indonesia. Digelar pada 19 dan 26 Juli di Jiwa Jawa Resort Bromo, serta 9 Agustus di Jiwa Jawa Resort Ijen, Banyuwangi, acara ini konsisten mengangkat musik jazz etnik berlatar keindahan alam dan kearifan lokal.
1. Mendorong Daya Tarik Wisata Jawa Timur
Festival ini masuk dalam agenda resmi pariwisata Jawa Timur dan jadi magnet wisatawan nasional hingga mancanegara. Lokasi strategis dan dukungan promosi digital dari Kemenparekraf membuat akses ke Bromo dan Ijen semakin mudah dan menarik.
2. Menghidupkan Ekonomi Lokal
Jazz Gunung Bromo memberi efek ekonomi langsung bagi pelaku UMKM, pemilik homestay, jasa jeep, dan kuliner lokal seperti sate kelinci dan kopi khas Bromo. Paket wisata yang dijual mulai dari Rp1,5 juta turut menggerakkan sektor perjalanan dan akomodasi di kawasan sekitar.
3. Merawat Seni dan Budaya Nusantara
Festival ini menampilkan kolaborasi musisi top seperti RAN, Tohpati, hingga grup etnik Madura dan seniman internasional. Pameran seni dan pertunjukan teater turut memperluas ruang ekspresi budaya, sementara program Bromo Jazz Camp membina talenta muda sebagai regenerasi seniman tanah air.
4. Komitmen pada Pariwisata Berkelanjutan
Jazz Gunung mendukung konsep wisata berkelanjutan dengan penyebaran lokasi acara (Bromo & Ijen), promosi ramah lingkungan, dan pelibatan komunitas lokal. Hal ini membuat festival tetap berdampak positif tanpa merusak ekosistem setempat.
Jazz Gunung Bromo 2025 lebih dari sekadar konser, tapi wadah sinergi antara musik, pelestarian budaya, dan ekonomi kerakyatan. Perpaduan alam, seni, dan masyarakat menjadikannya ikon baru kebanggaan Jawa Timur dan model sukses festival berbasis komunitas di Indonesia. (fin)
Editor : AA Arsyadani