Adventure Dirgantara Healing Historia Lifestyle Nasional Olahraga Peristiwa Regional Sosial Budaya Trending

Tradisi Layangan Pegon Khas Blitar saat Musim Kemarau, Langit Penuh Warna dan Bunyi Nyaring

Ardia Dimas • Minggu, 13 Juli 2025 | 01:12 WIB
Layangan pegon yang tampilannya unik.
Layangan pegon yang tampilannya unik.

Jawa Pos Radar Lawu – Saat langit mulai jernih dan hembusan angin kemarau mulai terasa, warga Blitar dan sekitarnya tahu bahwasanya musim layangan telah tiba.

Lebih dari sekadar permainan sore hari, tradisi menerbangkan layangan telah menjadi warisan budaya yang menumbuhkan kreativitas, kompetisi, hingga rasa bangga terhadap identitas lokal.

Salah satu jenis layangan yang paling populer di Kabupaten Blitar adalah layangan pegon ceper, atau yang biasa disebut juga gapangan.

Layangan ini bukan hanya mengudara tinggi, tetapi juga bersuara nyaring dan tampak memesona dengan motifnya yang artistik.

Apa Itu Layangan Pegon Ceper?

Layangan pegon ceper merupakan jenis layangan besar dengan bentuk datar dan lebar.

Ciri khasnya terletak pada desain ceper yang memungkinkannya terbang stabil meski diterpa angin kencang.

Dalam masyarakat Blitar, jenis ini menjadi ikon musim layangan dan selalu mendominasi langit desa saat sore menjelang.

Selain desainnya yang unik, pegon ceper juga dibekali dengan sendaren—sejenis senar atau bilah yang dipasang di bagian tengah layangan untuk menghasilkan suara dengungan.

Suara ini bisa terdengar hingga jarak puluhan meter saat layangan berada di udara, menjadi ciri khas yang membedakannya dari jenis lain.

Ciri Khas Layangan Pegon yang Jadi Andalan

1. Desain Ceper

Bentuknya lebar dan tipis, ideal untuk angin besar dan menjamin stabilitas saat terbang.

2. Sendaren Nyaring

Suara “nguuuung” yang muncul saat layangan mengudara jadi hiburan tersendiri.

3. Motif Artistik

Permukaan layangan dihiasi pola warna-warni, dari motif batik hingga tokoh pewayangan.

4. Ukuran Besar

Umumnya lebih besar dari layangan biasa, pegon butuh tenaga ekstra saat dilepaskan ke angkasa.

Layangan Pegon dalam Lomba dan Tradisi Lokal

Tak hanya sekadar hiburan, layangan pegon ceper juga menjadi bintang dalam berbagai lomba yang digelar di desa-desa Blitar saat musim kemarau.

Perlombaan ini biasanya tidak hanya menilai seberapa tinggi layangan bisa terbang, tetapi juga:

Kreativitas dan kerapian motif

Stabilitas layangan di udara

Kualitas bunyi sendaren

Orisinalitas bentuk dan warna

Kategori "adu motif" sering kali menjadi ajang pembuktian para seniman lokal dalam mengekspresikan karya mereka melalui medium yang tak biasa: langit.

Ekspresi Seni dan Pelestarian Budaya

Musim layangan membuka ruang baru bagi anak muda untuk berkarya.

Mereka tak hanya belajar teknik merangkai rangka dan membuat pola angin, tetapi juga mulai mengenal nilai-nilai tradisi dan gotong-royong.

Membuat layangan, terutama pegon ceper, bukan pekerjaan instan—perlu kerja sama, ketelitian, dan jiwa seni.

Di tengah gempuran teknologi dan gadget, tradisi ini menjadi ruang yang menyatukan generasi.

Anak-anak bermain, remaja berkreasi, orang tua mengenang masa kecil. Semua larut dalam kegembiraan saat layangan berhasil mengudara, menari di antara awan, dan bersuara lantang mengalahkan sunyi. (cor)

 

Editor : Andi Chorniawan
#layangan pegon #desain #SUARA #blitar #budaya