Jawa Pos Radar Lawu – Lomba Pacu Jalur, tradisi balap perahu khas masyarakat Kuantan Singingi, Riau, tengah viral di TikTok.
Popularitas mendunia ini seharusnya menjadi kebanggaan, namun justru memunculkan polemik di jagat maya.
Sejumlah akun di TikTok menuliskan klaim bahwa “tradisi Pacu Jalur sebenarnya berasal dari Malaysia”, sehingga memicu amarah dan kekecewaan dari netizen Indonesia.
Komentar-komentar tersebut membanjiri unggahan video yang memperlihatkan tarian khas Pacu Jalur, bahkan menimbulkan kekhawatiran soal klaim budaya yang tak berdasar.
Klaim Malaysia Diduga Dibuat Netizen Indonesia Sendiri
Baca Juga: Camping di Pantai Kebo Trenggalek Lagi Viral Ini Tips Aman dan Nyaman Biar Liburan Makin Seru
Namun, fakta mencengangkan terungkap. Akun TikTok @siprandi membongkar bahwa akun-akun yang menyebarkan klaim Pacu Jalur milik Malaysia sebenarnya adalah akun buatan netizen Indonesia sendiri.
Sejumlah akun bahkan terlihat sengaja menyamar seolah-olah berasal dari luar negeri, dengan tujuan memancing emosi, menciptakan provokasi, dan meningkatkan viralitas.
Aksi ini menuai kecaman dari banyak pengguna media sosial.
Netizen lain menyayangkan sikap iseng yang bisa mencoreng nama baik bangsa dan menimbulkan kesalahpahaman antarnegara.
“Malu banget sama SDM kita sumpah. Gak tau gimana tanggapan negara tetangga kalau lihat ini,” tulis akun @zyxrifldyy.
“Jangan bikin kita berantem ama negara tetangga hanya gara-gara ulah kalian,” tambah akun @aldi.beo.
“Dari dulu muncul klaim-klaim beginian, dah curiga itu ulah orang Indo sendiri,” ujar akun @omrio1453.
Hingga saat ini, belum ada pernyataan atau tanggapan resmi dari pemerintah Malaysia ataupun Indonesia terkait klaim Pacu Jalur tersebut.
Semua informasi yang beredar di TikTok dan media sosial masih sebatas dugaan dan reaksi warganet.
Pacu Jalur, Warisan Budaya Indonesia yang Mendunia
Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Riau, Roni Rakhmat, dengan tegas menyatakan bahwa Pacu Jalur merupakan warisan budaya otentik Indonesia yang berasal dari Kuantan Singingi, Riau.
Ia bahkan mendorong agar tradisi ini segera didaftarkan ke UNESCO sebagai warisan budaya tak benda, mengingat nilai sejarah, spiritual, hingga kolektivitas yang kuat dalam pelaksanaannya.
Tradisi Pacu Jalur sendiri telah berlangsung sejak abad ke-17.
Awalnya berfungsi sebagai sarana transportasi masyarakat di sepanjang Sungai Kuantan, tradisi ini kemudian berkembang menjadi festival rakyat tahunan yang digelar tiap Agustus.
Dalam perlombaan Pacu Jalur, perahu panjang sepanjang 25–40 meter didayung oleh 40–60 orang.
Yang menarik, di ujung perahu terdapat seorang penari yang berdiri disebut Togak Luan yang menjadi simbol keunggulan tim. (*)
Editor : Riana M.