Jawa Pos Radar Lawu - Pernah nggak sih kamu merasa hubungan yang dijalani seperti roller coaster? Kadang manis, tapi tiba-tiba meledak cuma gara-gara hal kecil.
Bisa jadi bukan soal kamu atau pasanganmu yang salah—tapi ada pola psikologis dari masa lalu yang masih ikut campur. Nah, di sinilah ilmu psikologi dewasa punya peran penting.
Yuk, kenalan sama konsep gaya keterikatan dari APA Dictionary of Psychology yang bisa bantu kamu bikin hubungan makin sehat, minim drama, dan makin sayang tiap hari.
Kenapa Kita Bertingkah Begini di Hubungan?
Menurut psikologi, setiap orang punya gaya keterikatan atau attachment style alias cara kita membangun kedekatan dan rasa aman dalam hubungan.
Ini terbentuk dari kecil dan biasanya kebawa sampai dewasa, terutama dalam hubungan romantis.
Ada 4 gaya keterikatan utama menurut APA. Cek kamu masuk yang mana:
1. Secure (Nyaman & Percaya Diri)
Kamu santai dalam hubungan, nggak takut dekat, nggak takut ditinggal. Bisa ngobrolin masalah dengan kepala dingin, dan tahu gimana ngasih serta nerima cinta. Ini idealnya sih.
2. Anxious-Preoccupied (Cemas & Butuh Kepastian Terus)
Kamu gampang cemas kalau pasangan belum balas chat, sering mikir “Dia masih sayang nggak ya?”, dan ngerasa butuh pembuktian terus. Capek juga, ya?
3. Dismissive-Avoidant (Cuek & Jaga Jarak)
Kamu lebih suka mandiri, nggak suka terlalu dekat-dekat, dan cenderung nutupin perasaan. Saat konflik, biasanya kamu bilang “aku butuh sendiri dulu” dan kabur duluan.
4. Fearful-Avoidant (Pengin Dekat Tapi Takut Disakiti)
Bingung sendiri: pengin dicintai tapi juga takut terlalu dekat. Jadi sering maju mundur dalam hubungan dan gampang tersulut.
Apa Hubungannya dengan Hubungan yang Sehat?
Contohnya, kalau kamu secure, kamu bisa bilang, “Aku sedih kamu lupa ulang tahun kita,” tanpa marah-marah. Tapi kalau kamu anxious, bisa jadi malah overthinking dan mikir pasangan sudah nggak cinta lagi.
Intinya: kamu nggak bisa membangun hubungan sehat kalau nggak kenal diri sendiri dulu.
Tips Biar Hubungan Kamu Nggak Kayak Sinetron
1. Kenali Gayamu
Coba refleksi: saat ada konflik, kamu kabur, meledak, atau diskusi? Ini bisa bantu kamu sadar pola yang terus berulang.
Baca Juga: Mengungkap 8 Tanda Wanita Kurang Berkelas dan Bersofistikasi Menurut Psikologi
2. Latih Komunikasi Dewasa
Gunakan kalimat “Aku merasa…” daripada “Kamu tuh selalu…”. Misalnya: “Aku ngerasa nggak diperhatikan waktu kamu lupa janji tadi,” bukan “Kamu emang nggak pernah peduli!”.
3. Jangan Buru-buru Bereaksi
Kalau emosi mulai naik, tarik napas. Tenangkan diri dulu. Kadang butuh jeda supaya konflik kecil nggak berubah jadi pertengkaran besar.
4. Bangun Kebiasaan Intim
Nggak harus hal besar. Cukup saling dengerin cerita harian, pelukan, atau sekadar ngucapin “terima kasih” bisa banget mempererat hubungan.
Yuk, mulai kenali pola relasi kamu, ngobrol lebih jujur sama pasangan, dan ciptakan hubungan yang saling menumbuhkan, bukan melelahkan. (fin)
Editor : AA Arsyadani