Jawa Pos Radar Lawu - Sore itu, di pendapa keraton yang sepi dan teduh, Raja Amangkurat duduk bersila di atas amben bambu beralaskan tikar pandan.
Semilir angin dari arah taman mengibaskan ujung kain batik yang melilit kakinya.
Di hadapannya, sebuah nampan kayu disajikan oleh abdi dalem perempuan dengan gerakan penuh takzim.
Pelayan perempuan itu menyajikan sepiring nasi putih, semangkuk sayur lodeh beserta sambal bajak yang merah menyala di sisi piring.
Dengan gerakan perlahan, raja meraih sendok kayu dan mencicipi kuah santan yang lembut namun berani.
Masakan dari dapur kerajaan sore itu memadukan labu siam, terong bulat, dan tempe semangit.
Betapa kenikmatannya menggoyang lidah, membawa kenangan akan masa kecil dan hari-hari di luar istana.
Di balik tampilan lodeh yang sederhana, Raja menemukan ketenteraman yang tak bisa diberikan oleh jamuan daging rusa atau kue-kue mewah lainnya.
Tak ada musik gamelan.
Hanya suara burung di kejauhan dan desir angin yang menemani sang raja menikmati hidangan rakyat.
Tapi justru dalam keheningan itulah, sayur lodeh menjelma jamuan pelipur lara dan penegas kedekatan antara pemimpin dan rakyatnya.
Sayur lodeh, yang oleh sebagian orang disebut “makanan kampung”, ternyata pernah menjadi hidangan keraton Mataram.
Di dapur rakyat ia dimasak, di meja raja ia disajikan.
Masakan yang Merangkul, Bukan Menjauhkan
Sayur lodeh bukanlah sekadar semangkuk kuah bersantan.
Ia adalah cerita sekaligus penyatu lidah Nusantara.
Dalam satu panci, beragam sayur direbus bersama.
Ada yang keras seperti jagung, ada yang lembut seperti terong.
Tak ada yang menonjol sendiri.
Semuanya menyatu dalam harmoni cita rasa kuliner Nusantara.
Di banyak daerah Jawa, sayur ini juga dipercaya sebagai penolak bala.
Dalam upacara-upacara adat, lodeh disajikan untuk mengusir energi buruk, membawa ketenteraman, dan menjaga keseimbangan antara alam dan manusia.
Raja-raja Jawa menyukai lodeh bukan karena keistimewaan bahannya, tapi karena kekuatan rasa dan nilai kesederhanaan dalam penyajiannya.
Di sanalah letak keagungan sejati.
Dari dapur rakyat hingga meja raja, sayur lodeh membuktikan bahwa yang sederhana tak berarti biasa.
Ia membawa rasa, nilai, dan kedekatan.
Ia menghangatkan hati, menyatukan ruang makan, dan menembus batas antara penguasa dan rakyat.
Kadang, keagungan tidak datang dari kemewahan.
Tapi dari sepiring sayur yang dimasak dengan hati yang legawa. (fin)
Editor : AA Arsyadani