Jawa Pos Radar Lawu - Vespa telah menjadi simbol gaya hidup dan kendaraan ikonik sejak 1946.
Namun di tengah hadirnya Vespa modern dengan teknologi injeksi, sistem ABS, hingga konektivitas smartphone, banyak pecinta otomotif tetap memilih Vespa klasik sebagai tunggangan favorit mereka.
Mengapa skuter 2-tak berusia puluhan tahun ini masih lebih menggoda dibanding versi terbaru?
Salah satu alasan utama adalah estetika dan karakter.
Vespa klasik seperti PX150, Sprint Veloce, hingga PTS punya siluet membulat yang khas dengan bodi full metal yang memancarkan aura vintage otentik.
Hal ini dibenarkan dalam artikel Piaggio Vintage Series, di mana disebut bahwa desain Vespa lama diciptakan untuk tahan lama dan mudah diperbaiki secara manual—berbeda dengan bodi plastik dan sistem elektronik yang mendominasi Vespa masa kini.
Daya tarik lainnya adalah sensasi berkendara mesin 2-tak.
Mesin ini dikenal memiliki karakter “nggerung”, respons cepat, dan aroma khas dari campuran oli samping yang menyatu dalam bahan bakar.
Seperti dijelaskan dalam Vespa.org.uk, skuter 2-tak memberikan pengalaman berkendara yang lebih “liar” dan raw, membuat setiap perjalanan terasa lebih berjiwa, meski tanpa kenyamanan modern seperti suspensi empuk atau pengereman ABS.
Soal perawatan pun Vespa klasik masih unggul.
Banyak penggemar Vespa menyebut bahwa Vespa lawas jauh lebih mudah dirawat karena komponennya sederhana dan bisa diperbaiki sendiri. Suku cadang juga masih tersedia luas, terutama di komunitas dan pasar onderdil klasik.
Situs Scooterwest menyebut bahwa komunitas Vespa klasik di Asia Tenggara sangat aktif dalam melestarikan dan berbagi sparepart asli.
Di sisi lain, Vespa modern memang menawarkan kenyamanan dan teknologi.
Namun beberapa pengendara menilai sensasinya terlalu halus dan kurang “nyawa”.
Karena itulah Vespa klasik tetap eksis sebagai simbol kebebasan dan warisan budaya otomotif, bukan sekadar alat transportasi. (gar)
Editor : Tegar Rukmana