Jawa Pos Radar Lawu – Banyak anak setelah besar jadi pribadi yang insecure. Ternyata, dalam pola asuh orang tua mereka sering menerima 5 kalimat berikut.
Setiap orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya. Namun orang tua juga manusia biasa.
Dalam perjalanan mengasuh anak, mereka kerap mengucapkan 5 jenis kalimat yang ternyata bisa membuat anak jadi insecure setelah dewasa.
Mengutip dari website fimela, kalimat-kalimat yang terdengar sepele dan sering dilontarkan secara spontan justru bisa menjadi benih munculnya rasa tidak percaya diri atau bahkan perasaan tidak berharga pada anak.
Sebelum menjadi kebiasaan, berikut adalah lima jenis kalimat orang tua yang membuat insecure anak, dan solusi alternatif untuk menggantikannya
1. “Kenapa gitu aja nggak bisa sih?!”
Orang tua sering dibuat kesal tingkah anaknya. Pekerjaan gampang jadi kacau gara-gara si kecil. “Kenapa gitu doang nggak bisa sih?!”
Kalimat seperti di atas sering dilontarkan orang tua saat meluapkan kekesalannya.
Hati-hati loh, kalimat semacam itu ternyata diserap anak. Anak jadi merasa tidak mampu dan meragukan kemampuannya sendiri.
Salah satu psikolog bernama Alex Anderson-Kahl bilang, kalau pernyataan negatif seperti di atas dapat membuat anak percaya mereka secara inheren tidak kompeten.
Kata “nggak bisa” akan melekat dan diingat selamanya oleh si anak.
Sebagai solusi, coba deh tanya sama anak. Di mana kesulitannya? Kenapa kamu bikin semuanya jadi berantakan?
Apa yang mama suruh tadi? Atau pertanyaan sejenisnya dengan gaya bicara yang lembut.
Anak akan lebih komunikatif dan terhindar dari insecure.
2. “Kenapa kamu nggak bisa kayak kakak/adik/teman kamu?!”
Hayo, siapa di sini orang tua yang suka membanding-bandingkan anak?
Alih-alih memberi mereka contoh di lingkungan sebayanya. Anak justru akan merasa direndahkan.
Psikolog Dr. Thai Alonso menyarankan untuk menghindari membanding-bandingkan dalam pola asuh anak. Tumbuh kembang setiap anak beda-beda.
Dan cara membanding-bandingkan bukanlah cara yang baik untuk mendorong anak.
Cobalah pendekatan lain seperti memberikan contoh atau mengevaluasi apa yang anak kerjakan.
3. “Halah, kamu nggak akan bisa lakuin itu.”
Ungkapan seperti ini justru membatasi keyakinan anak terhadap kemampuan dirinya. Alhasil, anak justru takut mencoba hal baru.
Pada dasarnya setiap anak punya rasa penasaran yang besar. Sayangnya berbeda dengan orang dewasa, anak sering melakukan kesalahan saat mencoba keingin tahuannya.
Cobalah mengganti kalimat sejenis di atas dengan dorongan semangat.
“Ayo kamu pasti bisa. Nanti kalau gagal coba lagi besok ya. Jangan khawatir, mama dukung kamu kok.”
4. “Kamu tuh bisanya cuma bikin kesel!”
Mengkambing hitamkan anak atas perasaan negatif yang orang tuanya rasakan adalah salah satu sebab anak menjadi insecure saat dewasa.
Anak jadi merasa bertanggung jawab atas emosi orang lain, yang sebenarnya bukan tanggung jawab mereka.
Alih-alih menyalahkan anak, yang menurut orang tua sumber masalahnya. Coba deh uraikan perasaan pada anak.
“Adek. Mama sedih deh kalau adek berantakin mainannya. Kenapa diberantakin? Adek mau main lagi?”
5. “Aku udah lakuin semuanya buat kamu. Ini balasanmu?!”
Walaupun orang tua banyak berkorban demi memberikan yang terbaik untuk anaknya. Bukan berarti perasaan tersebut bisa langsung dibebankan pada anak.
Apalagi kalau si anak masih dalam masa tumbuh kembang. Bayu Prihandito, seorang ahli psikologi mengatakan.
Jangan membuat anak merasa berhutang karena menerima kasih sayang dari orang tuanya.
Karena kemudian di suatu hari, anak akan menganggap kasih sayang adalah transaksional.
Padahal, kasih sayang datang secara alami dari manusia ke manusia. Dari hati ke hati.
Ada baiknya ketimbang membuat anak merasa memiliki hutang. Lebih baik tanamkan syukur lewat keseharian dan jalinan hubungan anak dan orang tua yang sehat. (kid)
Editor : Nur Wachid