Jawa Pos Radara Lawu – Semua hal di dunia ini tidak lepas dari dampak media sosial (medsos), baik itu positif dan negatif. Termasuk kecanduan medsos (media sosial).
Video yang kita tonton, gambar yang kita lihat, sound yang kita dengar dan durasi berselancar di sosial media, ternyata lebih banyak memberikan dampak negatif ketimbang dampak positif menurut psikologi.
Sosial media memang dirancang untuk terus mengguyur kita dengan konten yang kita ingin.
Ingat! Yang kita ingin. Bukan yang kita butuh.
Kalau kamu lagi sedih. Bawaannya pengen denger lagu mellow. Berisi kata-kata atau curhatan orang yang senasib denganmu. Bukannya membaik, perasaan sedihmu justru semakin parah.
Kalau kamu lagi butuh istirahat, yang lewat justru konten motivasi. Alih-alih istirahat, yang kamu lakukan justru merusak dirimu sendiri dengan ego.
Kamu bekerja sampai lupa waktu, sampai semua pekerjaanmu justru semakin kacau.
Akhirnya, kita justru menemukan diri kita terjebak di lembah yang gelap. Semakin dalam semakin gelap dan kita tak bisa menarik diri keluar lembah.
Sosial media memang dirancang agar kita kecanduan. Terus apa yang terjadi setelah kita kecanduan?
1. Sulit fokus
Mengonsumsi sosial media berlebihan dapat menyebabkan kita sulit fokus. Kita jadi sulit mengarahkan konsentrasi pada apa yang perlu kita kerjakan.
Kecanduan sosial media memunculkan rasa bahagia instan. Kita cuma perlu membuka layar, mengetuk aplikasi, lalu berselancar menikmati konten yang membuat kita bahagia.
Faktanya, kebahagiaan instan tidak bertahan lama. Orang yang sudah kecanduan sosial media, kebahagiaannya akan ikut hilang saat sosil media ditutup.
Hasrat dan fokus mengerjakan apa yang perlu dikerjakan ikut hilang gara-gara keinginan berselancar di sosial media.
2. Informasi tidak akurat, Hoax, atau Pemahaman yang Salah
Sosial media tidak punya filter untuk menguji kebenaran informasi. Semua orang berhak bersuara.
Karena hal ini, kita kerap terjebak informasi yang tidak akurat. Percaya terhadap hoax yang disebar, atau pemahaman yang salah.
Semakin bahaya lagi kalau topik yang kita cari tahu menyangkut hal yang fundamental. Kita jadi semakin terombang ambing.
Ujung-ujungnya, kita merasa semakin tersesat dan tak bisa membedakan mana yang benar, mana yang salah.
3. Membandingkan diri dengan orang lain
Kecanduan sosial media, juga membuat kita mudah membanding-bandingkan diri dengan orang lain.
Konten-konten flexing yang kita tonton biasanya memunculkan pikiran;
“Enak ya jadi dia”
“Coba aku ada di posisinya”
“Duh kapan ya bisa jadi kayak mereka?”
Padahal, semua orang berangkat dari tempat yang berbeda. Terlepas konten-konten tersebut benar atau tidak, kita tetap terpengaruh.
Membuat hidup kita terasa tidak seberuntung orang lain. Membuat kita berkecil hati dan mengerdilkan arti perjuangan itu sendiri.
4. Terputusnya dari hubungan sosial
Awal terciptanya sosial media berfungsi untuk memudahkan komunikasi sosial.
Nyatanya, seiring semakin berkembangnya jenis sosial media, manusia justru semakin merasa tidak penting bersosial.
Kita sering melewatkan momen makan bersama, jalan bersama, atau sekedar mengobrol dengan teman di sebelah kita.
Kita dibuat sibuk menatap layar ponsel dan berselancar mencari konten yang memberi kita hiburan.
Lebih parahnya lagi, kita menjadi sulit mentolelir kesalahan orang lain. Tanpa disadari kita jadi mudah tersinggung omongan orang. Ujung-ujungnya, kita menutup diri dari hubungan sosial.
Terputusnya kita dari hubungan sosial bukan cuma soal lingkaran pertemanan. Terputusnya manusia dari hubungan sosial juga menyangkut kesehatan mental.
Kita butuh hubungan antar manusia. Bukan cuma konten sosial media. (kid)
Editor : Nur Wachid