Jawa Pos Radar Lawu – Sabun merupakan bagian tak terpisahkan dari rutinitas kebersihan sehari-hari.
Namun, tak banyak yang menyadari bahwa di balik busa harum dan sensasi segar yang ditawarkannya.
Sejumlah produk sabun ternyata mengandung bahan kimia yang berpotensi mengganggu keseimbangan hormon dalam tubuh.
Oleh sebab itu, kita harus bisa bijak memilih sabun mandi yang tidak memiliki kadungan berbahaya bagi kulit hingga mengganggu hormon dalam tubuh.
Beberapa kandungan yang patut diwaspadai antara lain:
Baca Juga: 5 Merek Sabun Mandi yang Aman untuk Kulit Sensitif, Bebas Bahan Kimia Berbahaya!
Triklosan
Bahan antibakteri ini pernah populer digunakan dalam sabun cair dan sabun batang.
Meski efektif membunuh kuman, penelitian menunjukkan bahwa triklosan dapat bertindak sebagai endocrine disruptor, yaitu zat yang mengganggu sistem hormon tubuh, termasuk hormon tiroid dan hormon reproduksi.
Akibatnya, penggunaan jangka panjang dapat memicu gangguan perkembangan, sistem imun, hingga masalah kesuburan.
Paraben
Baca Juga: Hot Wheels 2025: rilis Jenis Baru yang Bikin Kolektor dan Penggemar Geger!
Paraben kerap digunakan sebagai pengawet dalam produk kosmetik dan sabun.
Senyawa ini dikenal dapat meniru hormon estrogen dalam tubuh, yang berisiko mengganggu keseimbangan hormonal, khususnya pada wanita.
Paraben bahkan telah ditemukan dalam jaringan tumor payudara, meskipun hubungan kausalnya masih diteliti lebih lanjut.
Phthalates
Zat kimia ini berfungsi memberikan aroma tahan lama pada sabun berpewangi.
Namun, phthalates juga dikategorikan sebagai pengganggu endokrin karena dapat mempengaruhi produksi hormon testosteron.
Paparan jangka panjang diduga berkaitan dengan gangguan perkembangan sistem reproduksi pada pria.
Sodium Lauryl Sulfate (SLS)
Meski berfungsi sebagai pembersih dan pembentuk busa, SLS juga dapat meningkatkan permeabilitas kulit, sehingga mempermudah penyerapan zat-zat kimia lain yang berbahaya.
Dalam jangka panjang, kombinasi SLS dengan bahan kimia berbahaya lainnya dapat memicu reaksi yang memengaruhi fungsi hormonal tubuh.
Kewaspadaan terhadap kandungan dalam sabun bukanlah bentuk paranoia, melainkan langkah bijak untuk menjaga kesehatan jangka panjang.
Konsumen disarankan untuk lebih cermat membaca label produk dan memilih sabun dengan bahan alami atau berlabel “bebas paraben”, “bebas triklosan”, dan “phthalate-free”.
Konsultasi dengan ahli dermatologi juga bisa menjadi solusi tepat untuk memilih produk yang aman sesuai dengan kondisi kulit dan kesehatan tubuh. (win)
Editor : Riana M.