Jawa Pos Radar Lawu - Keheningan Gunung Lawu usai Mbok Yem meninggal kini menyimpan kisah pilu yang menggugah hati jutaan netizen.
Tak hanya Temon sahabat Mbok Yem yang viral karena kesetiaannya menanti pemiliknya di warung tertinggi Lawu, namun juga dua kucing berbulu hitam putih yang tampak kebingungan mencari sosok yang selama ini menjadi pelindung dan kasih sayang mereka Mbok Yem.
Dalam video yang beredar luas di TikTok dan telah ditonton jutaan kali, terlihat dua ekor kucing duduk diam di depan warung, dirantai agar tak pergi jauh.
Mata mereka menerawang, bergerak pelan ke arah pintu warung yang tertutup, seakan masih berharap sosok Mbok Yem akan keluar membawa makanan hangat seperti biasanya.
“Bukan cuma Temon, dua kucing Mbok Yem juga masih menunggu. Ini bukan sekadar hewan, mereka keluarga yang ditinggal,” tulis salah satu komentar yang disukai ribuan pengguna TikTok.
Warung sederhana di ketinggian lebih dari 3.000 meter di atas permukaan laut itu pernah menjadi oase hangat di tengah dinginnya kabut Lawu.
Di sanalah Mbok Yem sosok wanita sepuh yang dicintai banyak pendaki menyajikan nasi pecel dan teh panas dengan senyum yang tak pernah absen.
Namun kini, hanya dinding kayu dan bangku kosong yang menjadi saksi bisu kepergiannya.
Temon, monyet kecil yang dahulu diselamatkan saat nyaris mati kedinginan di lereng Lawu, kini duduk termenung. Dua kucing berbulu kontras, juga hasil rescue, tampak kehilangan arah.
Mereka bukan hanya hewan peliharaan. Mereka adalah anak-anak kecil yang tak bisa memahami kepergian seseorang yang telah menjadi dunia mereka.
Kabar baiknya, menurut keterangan para pendaki dan komentar netizen, keluarga Mbok Yem akan merawat hewan-hewan tersebut. “Tenang ya, Temon dan kucing-kucing. Kalian nggak sendiri,” tulis salah satu akun yang mengaku kerabat Mbok Yem.
Perhatian dan empati terus mengalir, baik dari pendaki yang masih menyempatkan mampir memberi makan, hingga masyarakat dunia maya yang menyumbangkan doa dan kenangan.
Kini, di tengah sunyi dan dinginnya Lawu, warung itu bukan lagi sekadar tempat singgah. Ia telah menjadi monumen kasih sayang, pengabdian, dan kesetiaan.
Tempat di mana manusia dan hewan hidup berdampingan, saling menjaga, dan saling merindukan.
Selamat jalan, Mbok Yem. Langit Lawu kehilangan bintangnya.
Temon masih duduk di bangku kayu itu, menatap kabut pagi yang kini terasa lebih sepi.
Dua kucingmu masih memandang ke arah pintu, menanti langkah yang tak lagi terdengar. Tapi kasihmu tinggal di sini.
Di pundak angin, di napas para pendaki, dan di mata hewan-hewan kecil yang pernah kau selamatkan.
Terima kasih, Mbok Yem Gunung Lawu. Surga pasti rindu orang sebaik engkau. (kid)
Editor : Nur Wachid