Jawa Pos Radar Lawu – Bukan cuma ada di hubungan percintaan seseorang, namun kini fenomena ghosting mulai merambah ke ranah dunia kerja.
Fenomena ghosting sekarang bukan hanya soal soal pasangan yang menghilang tanpa kabar, tetapi juga karyawan yang tiba-tiba tidak muncul di kantor tanpa penjelasan.
Sebut saja ini dengan fenomena workplace ghosting. Fenomena yang semakin sering terdengar, terutama di kalangan karyawan Gen Z.
Kasus workplace ghosting sering terjadi ketika seorang pekerja berhenti tanpa mengajukan pengunduran diri secara resmi atau menghilang dari proses rekrutmen tanpa memberi tahu pihak HRD.
Banyak perusahaan melaporkan bahwa kandidat yang hampir diterima justru tidak datang pada hari pertama kerja, atau karyawan yang baru beberapa minggu bekerja tiba-tiba tidak bisa dihubungi lagi.
Fenomena ini tidak hanya menyulitkan perusahaan, tetapi juga menciptakan ketidakpastian di dunia kerja.
Dengan semakin banyaknya Gen Z yang memasuki angkatan kerja, penting bagi perusahaan untuk memahami alasan di balik tren ini dan bagaimana cara mengatasinya.
Mengapa Gen Z Menghilang dari Kantor?
Perilaku Gen Z yang menghilang dari tempat kerja, baik melalui pengunduran diri mendadak maupun ghosting, mencerminkan perubahan besar dalam budaya kerja dan harapan mereka terhadap lingkungan profesional.
Berikut adalah beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku ini:
- Keseimbangan Kehidupan Kerja
Generasi Z sangat menghargai keseimbangan antara karier dan kehidupan pribadi.
Baca Juga: Zakat Fitrah: Pelaksanaan yang Afdal, Sunah, hingga Niat yang Perlu Diketahui
Survei menunjukkan bahwa 67% pekerja muda merasa pekerjaan mereka tidak memberikan keseimbangan yang memadai, mendorong mereka untuk mencari lingkungan kerja yang lebih fleksibel dan mendukung kesehatan mental.
Mereka lebih memilih meninggalkan pekerjaan yang dianggap tidak sehat daripada bertahan dalam situasi yang tidak memuaskan.
- Revenge Quitting
Fenomena revenge quitting semakin umum di kalangan Gen Z, di mana mereka memilih untuk resign pada saat-saat kritis sebagai bentuk protes terhadap lingkungan kerja yang dianggap tidak mendukung.
Berbeda dengan generasi sebelumnya yang cenderung bertahan demi stabilitas finansial, Gen Z lebih memilih mengambil langkah ekstrem jika merasa stres atau tidak mendapatkan dukungan yang diperlukan.
- Ghosting Perusahaan
Praktik ghosting, di mana pencari kerja atau karyawan tiba-tiba menghilang tanpa memberi kabar, juga semakin sering terjadi di kalangan Gen Z.
Sekitar 41% dari mereka mengaku pernah melakukan ini terhadap calon perusahaan, mencerminkan ketidakpuasan dengan proses perekrutan atau tawaran pekerjaan yang dianggap tidak sesuai.
- Ekspektasi Karier yang Berbeda
Gen Z memiliki ekspektasi karier yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya.
Mereka tidak hanya mencari gaji yang stabil, tetapi juga nilai-nilai perusahaan dan kesempatan untuk berkembang secara pribadi dan profesional.
Penelitian menunjukkan bahwa 65% pekerja muda lebih memilih fleksibilitas dalam pekerjaan dibandingkan dengan stabilitas jangka panjang.
- Kesadaran Kesehatan Mental
Baca Juga: Menyambut Malam Lailatul Qadar, Berikut Prediksi dan Keutamaannya
Kesehatan mental menjadi prioritas utama bagi Ge Z.
Banyak dari mereka yang telah didiagnosis dengan masalah kesehatan mental, dan jika pekerjaan mulai mengganggu kesejahteraan mental mereka, mereka lebih cenderung untuk resign secara tiba-tiba. (*)
Editor : Riana M.