Jawa Pos Radar Lawu - Langit Semarang malam itu tampak kelam menjadi latar cerita Ramadan kali ini.
Di langgar kayu jati peninggalan Kiai Murtadho, pengajian kitab Majmu’ Syariat al-Kafiyat lil Awam baru saja selesai.
Para santri di bawah asuhan Kiai Sholeh Darat mulai beranjak dari tempatnya.
Di serambi langgar, seorang tamu telah menunggu.
Sosoknya tampak gagah, berwibawa, dan terkenal sakti.
Ia mengaku datang dari Jawa Timur, seorang tokoh yang kerap dipanggil kiai, meski meski lebih dikenal karena kesaktiannya daripada keilmuannya.
Begitu Kiai Sholeh Darat mendekat, tamu itu segera menyambut dengan senyum penuh kebanggaan.
“Jenengan tindhak mriki nithih napa? (Anda datang ke sini naik apa?)” Tanya Kiai Sholeh Darat ramah.
Tanpa ragu, tamu itu menjawab dengan nada terkesan pamer.
“Numpak macan. (Saya menunggangi harimau.)”
Pernyataan itu seketika membuat beberapa santri yang masih berada di langgar saling berpandangan.
Harimau? Hewan buas itu tentu bukan tunggangan biasa.
Kiai Sholeh Darat tetap tersenyum, tatapan matanya lembut namun tajam menembus keangkuhan sang tamu.
“Lho, dicancang teng pundi macane? (Lalu, diikat di mana harimau itu?)”
Tamu itu menunjuk ke luar pagar.
“Saya ikat di sana, Mbah. Khawatir menakuti santri-santri jenengan.”
Kiai Sholeh Darat tetap tenang.
Ia pun memanggil seorang santri dan memberinya perintah yang tak terduga.
“Tuntun macannya, Kang. Masukkan ke kandang kambing.”
Ketika Seekor Harimau Dimasukkan ke Kandang Kambing
Para santri yang mendengar perintah itu sempat terkejut.
Namun, tanpa ragu, santri yang ditunjuk langsung berjalan menuju pagar.
Beberapa santri lain yang penasaran ikut mengintip dari kejauhan.
Tak lama kemudian, terlihat seekor harimau besar dengan bulu keemasan yang mengkilap di bawah rembulan.
Santri itu dengan tenang menuntun harimau itu layaknya seekor kambing biasa.
Hewan buas yang mestinya ganas justru menundukkan kepalanya, mengikuti langkah santri tanpa perlawanan sedikit pun.
Sang tamu mulai merasa ada yang janggal.
“Mbah, jangan dimasukkan kandang. Nanti kambing jenengan bisa habis dimakan macan saya."
Namun, Kiai Sholeh Darat tetap tersenyum.
“Tak apa-apa. Kambing saya akan aman”
Mendengar jawaban itu, tamu tersebut merasa heran, tetapi diam.
Fajar Datang dan Kejutan yang Mengguncang
Malam berlalu, dan sang tamu pun terlelap.
Dalam benaknya, ia sudah membayangkan keesokan harinya menemukan bangkai-bangkai kambing yang tercerai-berai, dimangsa macannya yang ganas.
Namun, saat pagi tiba, ia segera bergegas menuju kandang untuk memastikan dugaannya.
Saat sampai di depan kandang, matanya terbelalak.
Justru harimau peliharaannya yang mati.
Tubuh hewan buas itu tergeletak kaku di tanah.
Sementara, kambing-kambing Kiai Sholeh tetap utuh dan riuh mengembik seakan menertawakan sesuatu.
Yang lebih mencengangkan, seekor kambing berjanggut panjang tampak berdiri dengan mulut kemerahan.
Seolah baru saja selesai menuntaskan pertarungan.
Suasana hening. Tubuh tamu itu bergetar.
Bagaimana mungkin seekor kambing bisa mengalahkan seekor harimau?
Barulah ia menyadari, di hadapannya bukanlah ulama biasa.
Ia bukan sekadar seorang kiai yang mengajar kitab di langgar kecil.
Melainkan seorang waliyullah dengan karomah yang tak terjangkau oleh kesaktian duniawi.
Dengan penuh penyesalan, sang tamu mendekati Kiai Sholeh Darat, lalu menunduk hormat.
"Mbah, saya mohon maaf atas kesombongan saya."
Kiai Sholeh Darat tetap tersenyum, menepuk bahu tamunya dengan lembut.
"Kesaktian itu bukanlah segalanya, Kang. Ilmu dan keberkahan jauh lebih utama."
Hikmah dari Kisah Menarik Ini
Kisah ini tidak sekadar bercerita tentang keajaiban.
Ttapi juga mengandung pelajaran mendalam tentang kesombongan dan hakikat kekuatan sejati.
Banyak orang mengira bahwa kesaktian dan kemampuan luar biasa adalah tanda keunggulan.
Dalam kisah ini, justru seekor kambing biasa yang diliputi berkah dapat menaklukkan harimau yang begitu perkasa.
Sebagaimana dalam kehidupan, ilmu, keberkahan, dan kerendahan hati lebih berharga dibanding sekadar kehebatan duniawi yang sering kali menyesatkan pemiliknya.
Cerita ini terus dikenang sebagai salah satu bukti karomah Kiai Sholeh Darat.
Siapa saja yang mendengar kisah ini, semoga dapat mengambil hikmah mendalam.
Bahwa kebesaran sejati bukanlah terletak pada kesaktian.
Melainkan pada ilmu dan kedekatan dengan Allah.
Sebab, di hadapan-Nya, harimau sekuat apa pun bisa kalah oleh seekor kambing yang diberkahi. (fin)
Editor : Andi Chorniawan