Jawa Pos Radar Lawu – Bulan Sutena akhirnya angkat bicara soal link viral 8 menit dan 1 menit 14 detik yang viral dan dikaitkan dengan dirinya.
Bulan Sutena, penyanyi dan influencer asal Bali itu menegaskan bahwa perempuan dalam video 8 menit dan 1 menit 14 detik tersebut bukan dirinya, melainkan hasil manipulasi teknologi Artificial Intelligence (AI).
Melalui video klarifikasi yang diunggah akun Instagram Denpasar.viral, Bulan Sutena dengan santai membantah tudingan tersebut.
Ia mengaku heran mengapa masih banyak orang yang percaya bahwa sosok dalam video itu adalah dirinya.
"Halo, how are you? Kabar aku, bingung. Kenapa? Karena di komen, kenapa sih masih pada percaya kalau video yang lagi viral itu adalah aku?" ujar Bulan Sutena dalam video klarifikasinya.
Bulan meminta masyarakat untuk lebih teliti dalam melihat video yang beredar.
Ia menegaskan bahwa video tersebut adalah hasil penyalahgunaan teknologi yang sangat merugikan dirinya.
"Takut banget ya sama orang-orang yang menyalahgunakan teknologi zaman sekarang. Kejam banget mereka itu," kata Bulan.
Menurutnya, banyak orang yang mengira bahwa video syur itu asli karena belum terlalu mengenal wajahnya dengan baik.
Baca Juga: Intip Harga Tiket dan Wahana di Gamma Grape Experience, Wisata Edukasi Seru di Kota Batu
Ia pun berharap masyarakat bisa lebih bijak dalam memanfaatkan teknologi agar tidak disalahgunakan untuk hal-hal negatif.
"Doakan saja semoga mereka cepat sadar dan menjadi ciptaan Tuhan yang berguna. Yuk, kita gunakan teknologi untuk hal yang positif," tutup Bulan Sutena.
Manipulasi AI Semakin Marak
Kasus penyalahgunaan AI untuk membuat deepfake video asusila semakin sering terjadi.
Teknologi ini memungkinkan wajah seseorang ditempelkan ke dalam video yang tidak ada hubungannya dengan mereka.
Kasus seperti yang dialami Bulan Sutena menjadi peringatan bagi masyarakat agar lebih waspada terhadap konten yang beredar di internet.
Sebelum percaya dan menyebarkan informasi, penting untuk memverifikasi kebenaran video agar tidak terjebak dalam hoaks atau fitnah digital.
Kasus ini menunjukkan betapa bahayanya teknologi jika digunakan secara tidak bertanggung jawab.
Masyarakat diharapkan lebih kritis dan bijak dalam menilai informasi yang tersebar di media sosial. Jangan mudah percaya, apalagi ikut menyebarkan! (JawaPos.com/ota)
Editor : Nur Wachid