Jawa Pos Radar Lawu - Thrifting, atau aktivitas berburu pakaian bekas, semakin digemari oleh generasi Gen Z.
Berbeda dengan stigma lama bahwa pakaian bekas hanya untuk mereka yang tidak mampu membeli barang baru, kini thrifting telah menjadi bagian dari gaya hidup modern, kreatif, dan penuh makna.
Generasi Z memandang thrifting sebagai lebih dari sekadar belanja hemat.
Ini adalah bentuk ekspresi diri, aksi peduli lingkungan, dan cara menantang budaya konsumtif yang terus berkembang.
Survei Deloitte Global 2023 juga menunjukkan bahwa lebih dari 60 persen responden Gen Z prihatin dengan perubahan iklim, dan sebagian besar mengatakan bahwa keberlanjutan memainkan peran besar dalam keputusan pembelian mereka.
Salah satu alasan utama Gen Z menggemari thrifting adalah kesadaran mereka terhadap isu lingkungan.
Industri fast fashion telah lama dikenal sebagai salah satu penyumbang polusi terbesar di dunia, baik melalui limbah tekstil maupun penggunaan sumber daya yang berlebihan.
Dengan membeli pakaian thrifting, Gen Z membantu mengurangi limbah fashion yang sering kali berakhir di tempat pembuangan sampah.
Pilihan ini bukan hanya praktis tetapi juga mencerminkan nilai-nilai keberlanjutan yang mereka junjung tinggi.
Thrifting juga menawarkan peluang untuk mengekspresikan kepribadian secara unik.
Pakaian yang ditemukan di toko thrift biasanya memiliki desain yang tidak lagi diproduksi massal, seperti gaya vintage atau item langka dari dekade-dekade sebelumnya.
Hal ini sangat menarik bagi Gen Z yang cenderung mencari cara untuk tampil berbeda dari yang lain.
Dengan thrifting, mereka bisa memadupadankan berbagai gaya, menciptakan penampilan orisinal tanpa khawatir terlihat meniru tren yang sama dengan orang lain.
Harga yang terjangkau menjadi daya tarik tersendiri bagi generasi muda ini. Banyak anak muda yang masih berada di awal karier atau berstatus pelajar, sehingga anggaran untuk fashion tidak terlalu besar.
Thrifting menawarkan solusi hemat tanpa mengorbankan kualitas atau estetika.
Pakaian bekas yang dijual dengan harga jauh lebih murah memungkinkan mereka tetap tampil stylish tanpa menguras dompet.
Lebih dari sekadar soal harga dan lingkungan, proses berburu barang bekas memiliki sensasi tersendiri.
Gen Z menganggap thrifting sebagai pengalaman seru yang penuh kejutan.
Tidak jarang mereka menghabiskan waktu berjam-jam di toko thrift atau pasar loak untuk menemukan pakaian dengan desain yang sesuai selera.
Aktivitas ini juga menjadi cara untuk bersosialisasi dan berbagi pengalaman dengan teman-teman.
Media sosial menjadi salah satu faktor besar yang mempopulerkan thrifting di kalangan Gen Z.
Platform seperti TikTok, Instagram, dan YouTube dipenuhi dengan konten seputar thrift haul atau thrift flip, di mana para kreator membagikan barang bekas mereka dan bahkan memodifikasinya menjadi pakaian baru yang lebih trendi.
Hal ini menginspirasi banyak anak muda untuk mencoba thrifting sekaligus membuktikan bahwa barang bekas bisa terlihat sama kerennya dengan barang baru.
Namun, thrifting juga memiliki sisi yang perlu diperhatikan. Masuknya barang impor bekas dengan harga jauh lebih terjangkau dapat mengurangi pendapatan konveksi atau penjahit lokal.
Meski demikian, sebagian pelaku UMKM pedagang baju thrift merasa terbantu karena mereka dapat membeli pakaian dalam jumlah besar untuk dijual kembali dengan keuntungan yang lebih besar dibandingkan membeli dari penjahit lokal.
Thrifting, yang sebelumnya dianggap sebagai aktivitas marginal, kini menjadi tren yang semakin populer di kalangan Generasi Z.
Aktivitas ini membawa perubahan besar dalam kebiasaan konsumsi dan dunia mode. (*)
Editor : Riana M.