Jawa Pos Radar Lawu - Dua tanda utama dari Parental Compassion Fatigue adalah kelelahan emosional dan perasaan jauh dari emosi anak-anak.
Kondisi ini sering kali dipicu oleh trauma.
Ketika seseorang menghadapi kesulitan seperti tekanan finansial, isolasi, kehilangan orang terdekat, atau ketakutan akan penyakit berbahaya, tubuh cenderung masuk ke mode fight or flight.
Hal ini, menurut Kara Hoppe, seorang psikoterapis sekaligus penulis buku Baby Bomb: A Relationship Survival Guide for New Parents, dapat menyebabkan kelelahan yang mendalam.
Meskipun istilah compassion fatigue sering digunakan bergantian dengan burnout, keduanya memiliki perbedaan penting.
Burnout lebih umum terjadi karena tekanan pekerjaan atau kehidupan sehari-hari.
Sedangkan compassion fatigue adalah kelelahan fisik dan emosional yang muncul akibat paparan trauma atau tekanan yang dialami oleh orang lain.
“Ketika sistem saraf tidak dapat tenang, kita menjadi sangat waspada dan terus-menerus khawatir akan bahaya,” ujar Hoppe.
Kondisi ini membuat aktivitas seperti berpikir jernih, memecahkan masalah, dan menunjukkan empati kepada orang lain terasa sangat berat.
Orang tua yang mengalami Parental Compassion Fatigue sering merasa gagal dalam perannya.
Namun, Hoppe menegaskan bahwa kondisi ini tidak mencerminkan hilangnya rasa cinta kepada anak-anak, melainkan berkaitan erat dengan trauma.
Ketika sumber daya emosional dan fisik yang digunakan untuk berempati terkuras habis, orang tua mungkin merasa sulit untuk tetap peduli atau hadir secara emosional.
Gejala Parental Compassion Fatigue
Orang tua yang mengalami Parental Compassion Fatigue sering menunjukkan beberapa gejala yang mencakup kelelahan fisik dan emosional yang mendalam.
Mereka bisa merasa apatis atau kurang peduli terhadap penderitaan orang lain, serta khawatir berlebihan tentang keselamatan anak-anak mereka.
Rasa bersalah sering muncul karena merasa tidak mampu memberikan bantuan yang cukup atau mencegah trauma yang mungkin terjadi.
Selain itu, kesulitan dalam tidur dan makan menjadi hal yang umum, sementara perasaan mudah marah, kehilangan keyakinan diri, dan rasa tidak berdaya juga bisa muncul.
Semua ini terjadi karena sumber daya emosional dan fisik orang tua yang digunakan untuk berempati telah terkuras habis, membuat mereka merasa kesulitan untuk tetap hadir secara emosional bagi anak-anak mereka.
Penyebab Utama Parental Compassion Fatigue
Fenomena ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti:
- Intensitas Emosional
Pengasuhan anak membutuhkan empati, pengasuhan, dan dukungan terus-menerus, yang dapat menguras emosi seiring waktu.
- Stres Kronis
Tekanan pekerjaan, masalah keuangan, dan tuntutan masyarakat menambah beban yang memicu kelelahan emosional.
- Tantangan Anak
Mengasuh anak dengan kebutuhan khusus, penyakit kronis, atau masalah perilaku meningkatkan risiko kelelahan.
Baca Juga: Setahun Ponorogo Diterjang 347 Bencana, Tertinggi Longsor Disusul Banjir, Ini Sebaran Wilayahnya
- Kurangnya Perawatan Diri
Ketika orang tua mengabaikan kebutuhan mereka sendiri, seperti relaksasi, olahraga, atau pola makan sehat, mereka menjadi lebih rentan terhadap kelelahan.
- Minimnya Dukungan Sosial
Kurangnya dukungan dari keluarga, teman, atau komunitas membuat pengasuhan terasa lebih berat.
- Perfeksionisme
Harapan untuk menjadi “orang tua sempurna” dapat menciptakan tekanan yang tidak realistis, menyebabkan kelelahan dan perasaan tidak mampu.
- Paparan Trauma
Orang tua yang mengalami peristiwa traumatis yang melibatkan anak-anak sering kali mengalami stres sekunder, yang memperburuk compassion fatigue.
- Ketahanan Pribadi
Kemampuan mengelola stres dan mencari bantuan memengaruhi sejauh mana orang tua dapat mengatasi kelelahan ini.
Untuk mengatasi Parental Compassion Fatigue, orang tua perlu mengenali penyebab utama dari kondisi ini dan mengambil langkah-langkah yang tepat.
Mengatur prioritas menjadi hal yang penting, dengan fokus pada hal-hal yang paling krusial dan realistis, sehingga orang tua tidak merasa terbebani dengan ekspektasi yang terlalu tinggi.
Perawatan diri juga sangat diperlukan, seperti melakukan kegiatan yang membantu tubuh dan pikiran untuk relaksasi, baik melalui olahraga, meditasi, atau sekadar istirahat yang cukup.
Selain itu, membangun dukungan sosial dengan berbagi perasaan dan pengalaman bersama pasangan, keluarga, atau teman-teman bisa meringankan beban emosional.
Mengelola ekspektasi juga penting, dengan menyadari bahwa tidak ada orang tua yang sempurna. Fokuslah pada usaha dan bukan pada hasil yang selalu sempurna, karena proses pengasuhan itu sendiri sudah cukup berarti.
Dengan langkah-langkah ini, orang tua dapat menjaga kesejahteraan mental dan emosional mereka, sambil tetap memberikan kasih sayang yang dibutuhkan oleh anak-anak. (*)