Jawa Pos Radar Lawu - Gaya hidup slow living belakangan menjadi topik pembicaraan yang ramai dibahas.
Slow living sendiri adalah gaya hidup yang menekankan pada isaha menjalani kehidupan dengan lebih santai, sederhana, dan penuh kesadaran.
Istilah Slow Living muncul sebagai respons terhadap budaya yang bergerak terlalu cepat dan mulai mendominasi masyarakat modern.
Dimana banyak orang merasa tertekan oleh ritme hidup yang cepat dan tuntutan sehari-hari.
Dalam video bertajuk "Slow Living, Stoicism, Simple Life, Ikigai, semuanya Menjadi Satu" yang diunggah di kanal YouTube Gani the Yong, Gani menjelaskan konsep ini berdasarkan pengalaman pribadinya.
Slow Living Bukan Berarti Berhenti Bekerja
Menurut Gani, slow living adalah cara hidup yang berfokus pada kualitas hidup daripada kuantitas.
Filosofi ini mengajarkan untuk menikmati momen saat ini tanpa tergesa-gesa, menghindari pikiran berlebihan tentang masa lalu atau masa depan.
Hal ini bertujuan untuk mencapai kebahagiaan sejati, baik untuk diri sendiri, keluarga, maupun lingkungan sekitar.
Namun, muncul pertanyaan menarik apakah slow living berarti berhenti bekerja sepenuhnya? KJawabannya adalah tidak.
Gani sendiri menegaskan bahwa slow living bukanlah alasan untuk bermalas-malasan atau menghindari pekerjaan.
Sebaliknya, bekerja tetap menjadi bagian penting, tetapi dilakukan dengan cara yang tidak membebani diri.
Prinsip ini serupa dengan konsep ikigai, di mana seseorang tetap aktif bekerja atau berkarya, namun fokus pada kegiatan yang memberikan makna dan kebahagiaan.
Prinsip-Prinsip Slow Living
Baca Juga: Mengenal Orang yang Self-Centered, Ini Cara Menghadapinya dengan Bijak
Konsep hidup slow living ini akan lebih berarti apabila juga menerapkan prinsip-prinsip lainnya. Dalam videonya sendiri, Gani menyebutkan bahwa slow living erat kaitannya dengan:
- Simple Life, atau hidup sederhana dengan memilah barang yang benar-benar dibutuhkan dan menghindari konsumsi berlebihan.
- Stoicism, Mengelola emosi dengan tidak terpengaruh hal-hal di luar kendali, seperti kritik atau kondisi eksternal.
- Ikigai, Tetap bekerja, namun pada hal yang disukai dan memberikan makna, seperti berkebun, mengajar, atau berkarya.
Slow living bukanlah sesuatu yang bisa dicapai secara instan. Kita perlu memulainya dari pola pikir kita sendiri.
Dengan memahami konsep-konsep seperti stoicism dan simple life, kita bisa sedikit demi sedikit menjalani slow living.
Apakah Slow Living Cocok untuk Semua Orang?
Tidak semua orang bisa langsung beralih ke slow living, terutama jika masih berada dalam pekerjaan yang menuntut banyak waktu dan energi.
Namun, setiap orang perlu mencoba menyesuaikan gaya hidup mereka secara perlahan.
Slow living bukan tentang punya rumah besar atau waktu luang melimpah.
Ini tentang bagaimana kita mengatur pikiran untuk lebih menghargai momen saat ini.
Jadi, apakah slow living itu harus tetap bekerja atau nganggur saja di rumah?
Jawabannya, slow living tidak menolak pekerjaan, melainkan mendorong kita untuk menemukan cara bekerja yang lebih bermakna dan seimbang. (*)
Editor : Riana M.