Jawa Pos Radar Lawu - Istilah Empty Nest Syndrome digunakan untuk menggambarkan perasaan orang tua yang sedih, kehilangan, dan hampa saat anak-anak mereka meninggalkan rumah.
Meskipun setiap orang tua ingin anaknya menjadi orang yang mandiri, perpisahan ini dapat menyebabkan banyak emosi yang kompleks, seperti kesepian dan kehilangan makna dalam rutinitas sehari-hari.
Jika dibandingkan dengan ayah, ibu lebih sering mengalami kondisi Empty Nest Syndrome.
Namun baik ayah maupun ibu sama-sama rentan, terutama jika mereka menghadapi perubahan signifikan lainnya, seperti memasuki masa pensiun, mengalami menopause, atau kehilangan pasangan hidup.
Orang tua yang tinggal di perkotaan cenderung lebih individualistis, dan orang tua yang tinggal sendirian.
Terutama setelah kehilangan pasangan, lebih rentan merasakan kesepian yang mendalam.
Sebaliknya, orang tua yang tinggal di pedesaan cenderung lebih mudah menjaga hubungan sosial dengan saudara atau tetangga yang tinggal di dekatnya.
Faktor Penyebab Empty Nest Syndrome
- Perubahan Peran dan Rutinitas
Ketika anak-anak meninggalkan rumah, peran orang tua dalam mengasuh dan mendukung mereka secara langsung berubah, yang dapat menyebabkan rasa kehilangan yang sangat besar.
- Berkurangnya Peran Sosial
Baca Juga: Keren! Pemerintah Jogja Berikan Akses WiFi Gratis untuk Wisatawan, Ini Lokasi dan Cara Aksesnya
Orang tua biasanya terlibat dalam pendidikan dan masyarakat anak mereka. Anak-anak mulai merasa tidak dibutuhkan oleh peran ini ketika mereka menjadi mandiri.
- Ketergantungan Emosional
Orang tua yang sangat dekat secara emosional dengan anak-anaknya seringkali mengalami rasa kehilangan yang mendalam. Seseorang dapat menjadi sangat kesepian jika tidak memiliki interaksi sehari-hari.
- Perubahan Hubungan dengan Pasangan
Baca Juga: Diduga Bakal Ada Season 3, Netflix Tak Sengaja Bocorkan Tanggal Tayang Squid Game 3
Pasangan suami istri sering kali menghadapi perubahan dinamika dalam hubungan mereka setelah anak mereka pergi. Hal ini dapat menyebabkan konflik atau perasaan hampa baru jika perhatian mereka sebelumnya tertuju pada anak-anak.
Tanda – Tanda Empt Nest Syndrome
- Languishing
Perasaan hampa, kehilangan semangat, atau tidak berenergi untuk menjalani aktivitas sehari-hari. Kondisi ini menggambarkan perasaan "terjebak" yang dikenal dengan istilah languishing.
- Kegelisahan Berlebih
Baca Juga: Ending Squid Game 2 yang Menggantung: Alasan di Balik Keputusan Kreator Hwang Dong-hyuk
Orang tua sering merasa gelisah tanpa alasan yang jelas. Kegelisahan ini juga bisa mengganggu fokus dalam aktivitas sehari-hari.
- Kesepian Berkepanjangan
Meski rasa kesepian adalah hal normal, pada empty nest syndrome, kesepian bisa berlangsung lama. Bahkan, orang tua tetap merasa sendiri meskipun berada di tengah keramaian.
- Mudah Marah atau Tersinggung
Emosi yang tidak stabil, seperti mudah marah atau tersinggung, juga bisa menjadi tanda sindrom ini. Hal ini disebabkan oleh perasaan tidak berdaya dalam mengendalikan situasi.
Empty Nest Syndrome mempengaruhi kesehatan mental orang tua, meskipun gangguan ini bukanlah gangguan psikologis resmi.
Keluarga dan lingkungan sosial dapat membantu mereka melewati fase ini dengan lebih baik jika mereka sadar dan mendapatkan dukungan.
Orang tua juga disarankan untuk berpartisipasi dalam aktivitas baru, menjalin hubungan sosial yang positif, atau menghubungi profesional jika diperlukan. (*)
Editor : Riana M.