Jawa Pos Radar Lawu - Tahun 2024 membawa warna baru dalam dunia kencan, salah satunya adalah tren throning.
Istilah tren throning menjadi sorotan setelah data dari Google menunjukkan bahwa throning adalah salah satu pencarian kencan terpopuler di kalangan Gen Z tahun ini.
Tren throning tidak hanya menarik perhatian, tetapi juga memicu diskusi tentang bagaimana hubungan modern berkembang di era digital.
Secara garis besar, throning menggambarkan situasi ketika seseorang mencari pasangan yang memiliki status sosial tinggi atau pengaruh besar untuk meningkatkan citra diri mereka.
Dalam hal ini, “throne” melambangkan kekuasaan, popularitas, atau prestise yang dimiliki oleh pasangan yang didekati.
Fenomena ini sering kali dipengaruhi oleh kebutuhan akan validasi sosial dan rasa ingin dihargai.
Bagi sebagian orang, menjalin hubungan dengan seseorang yang "berkelas" dianggap sebagai cara untuk mendapatkan pengakuan, baik dari lingkungan maupun dunia maya.
Jika istilah seperti gold digger identik dengan motivasi finansial dalam hubungan, throning membawa dimensi baru.
Motivasinya tidak hanya soal uang, tetapi juga melibatkan kekuasaan, pengaruh, dan popularitas.
Dalam era di mana citra diri di media sosial menjadi penting, memiliki pasangan yang “berpengaruh” dianggap sebagai pencapaian sosial tersendiri.
Namun, hal ini datang dengan konsekuensinya sendiri.
Tekanan untuk selalu terlihat sempurna di depan publik dapat menimbulkan dampak negatif pada kesehatan mental, baik bagi pelaku maupun pasangan mereka.
Hubungan yang awalnya terlihat glamor bisa berubah menjadi beban emosional ketika ikatan emosional yang sebenarnya tidak terbangun.
Dalam praktiknya, pelaku throning cenderung memamerkan pasangan mereka secara berlebihan.
Pasangan diperlakukan bak anggota kerajaan—disanjung dan dihujani pujian untuk meningkatkan status sosial pelaku.
Pada awalnya, hal ini mungkin terasa seperti sanjungan tulus.
Namun, seiring waktu, pasangan sering kali menyadari bahwa hubungan ini lebih fokus pada citra daripada cinta.
Salah satu ciri khas dari throning adalah kurangnya koneksi emosional yang mendalam.
Hubungan ini lebih didasari pada ketertarikan dangkal—penampilan fisik, prestasi, atau pengaruh sosial—bukan ikatan batin yang sejati.
Meski terasa seperti mimpi diawal, kenyataannya, banyak hubungan semacam ini yang berakhir tanpa rasa puas.
Fenomena throning menjadi pengingat bahwa hubungan yang autentik tidak bisa didasarkan hanya pada pencitraan.
Hubungan yang sehat dibangun atas dasar saling menghormati, mendukung, dan cinta yang timbal balik.
Validasi yang dicari melalui pasangan tidak akan pernah menggantikan kebahagiaan yang datang dari hubungan yang tulus. (*)
Editor : Riana M.