Jawa Pos Radar Lawu - Pandemi COVID-19 membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia, termasuk dalam pola asuh orang tua terhadap anak.
Selama COVID-19 para orang tua memiliki ketakutan yang lebih besar, entah dalam kesehatan, keamanan dan juga masa depan anak, hal inilah yang membuat orang tua menjadi lebih overprotektif terhadap anaknya.
Kekhawatiran inilah yang kemudian melahirkan pola asuh berlebihan yang terlalu memanjakan dan melindungi anak, kita mengenalnya sebagai strawberry parenting.
Jika dibiarkan, pola asuh strawberry parenting ini akan memiliki dampak buruk pada perkembangan anak muda, terutama dalam membangun karakter kemandirian dan ketangguhan mental anak.
Strawberry Parenting, Apa Itu ?
Istilah strawberry parenting diambil dari karakteristik buah stroberi cantik dari luar tetapi mudah rusak jika ditekan.
Pola asuh ini menciptakan anak-anak yang tampak baik-baik saja di luar, tetapi rentan secara emosional dan mental karena terlalu dilindungi, dan mereka dikenal dengan sebutan generasi strawberry.
Orang tua yang overprotektif cenderung menghindarkan anak dari berbagai risiko dan tantangan hidup. Akibatnya, anak-anak yang tumbuh dari pola asuh strawberry kurang memiliki pengalaman dalam menghadapi masalah dan cenderung bergantung pada orang tua.
Kenapa Pandemi Jadi Pemicu?
Setelah pandemi COVID-19 selesai memunculkan rasa takut dan cemas yang ekstrem pada banyak orang tua. Ketakutan akan penularan virus, berita-berita menakutkan tentang resesi, hingga ketidakpastian masa depan menjadi pemicu utama.
Orang tua merasa perlu melindungi anak dari segala hal, baik ancaman nyata maupun yang hanya ada di pikiran mereka.
Selama masa pandemi, anak-anak juga lebih sering di rumah, membuat orang tua memiliki kontrol penuh terhadap kegiatan mereka.
Namun setelah pandemi berakhir, alih-alih membiarkan anak tumbuh dengan cara mereka sendiri, banyak orang tua justru memperketat aturan dan membatasi kebebasan anak.
Bahaya Strawberry Parenting bagi Generasi Muda
Pola asuh yang terlalu protektif mungkin terlihat baik pada awalnya, tetapi efek jangka panjangnya bisa merugikan.
Beberapa dampak yang akan terjadi pada anak adalah kurangnya kemandirian, anak-anak yang terlalu dilindungi sering kali sulit membuat keputusan sendiri. Mereka cenderung bergantung pada orang tua dalam menghadapi masalah.
Selain itu anak-anak juga akan memiliki mental yang lemah, mereka rentan terhadap tekanan sehingga mudah merasakan stres dan depresi.
Tanpa pengalaman menghadapi tantangan hidup, anak anak akan kesulitan saat dihadapkan pada tantangan atau kegagalan.
Anak-anak yang tumbuh dari strawberry parenting juga tidak memiliki kecerdasan sosial, karena orang tuanya selalu membatasi interaksi anaknya dengan lingkungan disekitar yang dapat menghambat perkembangan keterampilan sosial mereka.
Pandemi COVID-19 memang membuat orang tua lebih waspada, tetapi penting untuk tidak jatuh ke dalam perangkap strawberry parenting. Anak-anak perlu ruang untuk tumbuh, belajar, dan menghadapi dunia dengan mandiri.
Pola asuh yang bijak adalah pola asuh seimbang yang memberikan perlindungan sekaligus kesempatan untuk belajar dari tantangan.
Jadi, yuk, bantu generasi muda kita menjadi pribadi yang tangguh dan siap menghadapi masa depan! (*)
Editor : Riana M.