Jawa Pos Radar Lawu- Gen Z kerap dikaitkan dengan generasi strawberry, kita mengenalnya sebagai generasi yang kreatif dengan kemampuan beradaptasi yang tinggi.
Namun, generasi strawberry juga sering terlihat rapuh saat menghadapi tekanan hidup.
Salah satu isu yang muncul adalah apakah generasi strawberry rentan terhadap kondisi decision fatigue (kelelahan pengambilan keputusan) atau hal ini terjadi karena mereka tidak pernah diajarkan untuk membuat keputusan sejak kecil?
Decision Fatigue, Apa Itu?
Decision fatigue adalah kondisi di mana seseorang merasa lelah secara mental dan emosional setelah membuat banyak keputusan.
Fenomena ini pertama kali diidentifikasi oleh psikolog sosial Roy F. Baumeister seorang psikolog sosial Amerika yang dikenal karena karyanya tentang diri, penolakan sosial, dan lain-lain.
Menurut Baumeister decision fatigue terjadi ketika otak terus-menerus bekerja untuk menimbang pilihan, energi mental terkuras, yang pada akhirnya dapat menyebabkan kesulitan dalam mengambil keputusan yang tepat.
Beberapa tanda-tanda decision fatigue yang bisa kita kenali adalah:
- Menghindari mengambil keputusan.
- Menghabiskan waktu yang lama untuk memutuskan sesuatu.
- Bertindak impulsif saat membuat keputusan.
- Menunda-nunda keputusan.
- Merasa tidak puas setelah membuat keputusan.
- Generasi Strawberry dan Decision Fatigue
- Generasi strawberry tumbuh di era digital yang dipenuhi dengan pilihan. Mulai dari pilihan konten di media sosial, jalur pendidikan, hingga peluang karir.
Semuanya melibatkan keputusan besar dan kecil setiap hari dan hal ini membuat mereka rentan terhadap decision fatigue.
Mengapa Decision Fatigue Terjadi?
Banjir Informasi
Era digital memungkinkan generasi ini menerima informasi dari berbagai sumber. Meski menguntungkan, hal ini juga membingungkan karena terlalu banyak pilihan yang harus dipertimbangkan.
Kebutuhan untuk Selalu Relevan
Media sosial menciptakan tekanan bagi generasi strawberry untuk selalu mengikuti tren. Mereka sering merasa perlu membuat keputusan cepat agar tidak "ketinggalan zaman," yang dapat mempercepat kelelahan mental.
Kurangnya Pengalaman Mengambil Keputusan
Banyak anggota generasi ini dibesarkan di bawah pola asuh yang protektif. Orang tua yang terlalu sering memutuskan segalanya untuk anak cenderung membuat mereka kesulitan mengembangkan keterampilan pengambilan keputusan sejak dini.
Selain decision fatigue, ada kemungkinan bahwa generasi strawberry tidak terbiasa atau tidak diajarkan mengambil keputusan sejak kecil oleh orang tyanya.
Pola asuh yang protektif, misalnya, sering kali melibatkan orang tua yang terlalu mengontorl keputusan anak dari kecil, orang tua tidak memberikan kebebasan anak untuk mencoba hal baru, dan orang tua terlalu melindungi anak dari kegagalan dan konsekuensi atas keputusannya sendiri.
Akibatnya, anak-anak tumbuh dengan ketergantungan pada orang lain untuk membuat keputusan, yang dapat berlanjut hingga dewasa.
Membangun kemampuan mengambil keputusan adalah keterampilan penting yang tidak hanya mengurangi kelelahan mental tetapi juga membantu generasi strawberry berkembang di era yang serba cepat. (*)
Editor : Riana M.