Jawa Pos Radar Lawu - Istilah love language atau bahasa cinta mungkin sudah biasa digunakan dalam hubungan asmara.
Konsep ini meliputi lima cara utama seseorang mengekspresikan cinta kepada pasangannya, yaitu physical touch (sentuhan fisik), words of affirmation (kata-kata peneguhan), quality time (waktu berkualitas), giving gifts (memberi hadiah), dan acts of service (tindakan pelayanan).
Konsep ini diperkenalkan oleh Gary Chapman dan bertujuan untuk membantu pasangan memahami cara terbaik menunjukkan dan menerima cinta dari satu sama lain.
Tapi, pernahkah mendengar istilah fight language? Istilah ini mengacu pada cara setiap orang mengekspresikan setiap konflik yang terjadi dalam suatu hubungan.
Setiap konflik muncul,akan memicu emosi dalam otak kita. Pada kondisi tersebut, seseorang mungkin akan memberikan respon yang beragam seperti, mencaci maki, membentak, memukul, atau hanya memilih untuk diam dan pergi.
Menurut David Feinstein, seorang psikolog klinis yang dilansir dari Mindvalley, setiap orang memiliki kecenderungan alami dalam mengekspresikan kemarahan atau ketidaknyamanan.
"Ketika kita mencoba menenangkan seseorang yang marah, kecenderungan alami adalah menganggap mereka menghadapi emosi itu seperti kita. Pola ini terbentuk berdasarkan cara kita melihat, mendengar, merasakan, dan berpikir," jelasnya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa pola reaksi terhadap konflik tidak muncul begitu saja, melainkan dibentuk dari pengalaman dan cara seseorang memproses emosi.
Kemarahan sendiri bersifat "vulkanik", kata Martin Teicher, seorang profesor psikiatri asosiasi di Harvard Medical School di McLean, yang juga dikutip dari Mindvalley.
"Ekspresi emosi negatif, mentah, dan intens secara terbuka sulit disaksikan oleh banyak orang dan dapat meninggalkan luka," ungkapnya.
Dengan demikian, memahami fight language dapat membantu pasangan mengelola konflik dengan lebih sehat dan efektif.
Ada Beberapa Kategori Tipe Fight Language
- The Ignitor
Tipe ini bereaksi dengan kemarahan dan keinginan untuk merasa dilindungi. Seperti namanya, The Ignitor cenderung "meledak" saat menghadapi konflik.
Ketika mereka merasa disalahkan atau dianggap melakukan kesalahan, respons mereka sering kali bersifat defensif dan emosional. Contoh nya, “aku sudah berusaha tapi selalu salah di matamu”
- The Amplifier
Tipe ini lebih mengutamakan perasaan daripada logika. Ketika konflik terjadi, mereka akan mengekspresikan emosi mereka secara kuat, berharap pasangannya mengakui dan menghargai perasaan tersebut. Contoh nya, ”aku ga peduli masuk akal atau engga, aku tahu apa yang aku rasakan”
- Righteous
Fight language ini cenderung ingin merasa lebih unggul dari pasangannya, selain itu sering melampiaskan rasa frustasi, hingga memprovokasi dengan tuduhan atau bahaya yang kejam.
- Justification
Fight language tipe ini bersikukuh bahwa ia benar dan pasangan salah. Orang-orang yang menggunakan bahasa pertempuran sangat pandai membuat alasan untuk perilaku buruk mereka, karena merendahkan orang lain dapat membantu mereka merasa lebih baik.
- The Extinguisher
Baca Juga: Prof Rhenald Kasali Ungkap Budaya On-Demand dan Switching Culture yang Populer di Kalangan Gen Z
Tipe ini memiliki kecenderungan menghindari konflik. Mereka lebih suka menahan diri dan mundur dari situasi yang memanas. The Extinguisher akan memilih mengabaikan perdebatan, berharap konflik akan mereda dengan sendirinya.
Mengenali fight language pasangan dapat menghindarkan hubungan dari siklus konflik yang berulang dan memperkuat fondasi komunikasi.
Seperti halnya kita mempelajari love language pasangan, memahami fight language memungkinkan kita untuk membangun hubungan yang lebih sehat, empatik, dan penuh pengertian. (*)
Editor : Riana M.