Jawa Pos Radar Lawu - Generasi Strawberry—sebuah istilah yang belakangan sering digunakan untuk menggambarkan anak muda yang dianggap kurang tangguh dalam menghadapi kesulitan—ternyata sudah dicetuskan sejak 1978 oleh sosiolog Paul Hirst dalam bukunya The Graying of the Greens Demographic Change and Political Realignment in Australia.
Paul Hirst menggunakan istilah ini untuk menggambarkan generasi yang dilindungi secara berlebihan oleh orang tua, sehingga kurang terlatih untuk menghadapi tantangan hidup dan memiliki mental yang rapuh atau “manja”.
Istilah ini seiring berjalannya waktu menjadi topik perbincangan hangat dalam konteks parenting dan psikologi sosial.
Jika Anda ingin memahami lebih dalam tentang apa yang dimaksud dengan Generasi Strawberry, bagaimana peran orang tua dalam menciptakan mentalitas ini, dan dampaknya terhadap masa depan sosial dan politik, simak ulasan lengkapnya di bawah ini.
Apa Itu Generasi Strawberry?
Istilah Generasi Strawberry merujuk pada kelompok anak muda yang, menurut pandangan beberapa pihak, dianggap tidak siap menghadapi kesulitan hidup karena terlalu dilindungi atau dimanjakan sejak kecil.
Mereka cenderung tidak terlatih dalam mengatasi masalah atau kegagalan, karena seringkali orang tua atau lingkungan sekitar memberikan perlindungan yang berlebihan. Sehingga, saat menghadapi tantangan atau kegagalan, mereka seringkali merasa kesulitan atau tidak mampu menghadapinya.
Paul Hirst pertama kali mengemukakan istilah ini dalam bukunya yang terbit pada tahun 1978, The Graying of the Greens Demographic Change and Political Realignment in Australia.
Dalam buku tersebut, Hirst menggambarkan Generasi Strawberry sebagai kelompok anak muda yang terlahir di tengah kenyamanan ekonomi dan sosial yang cukup stabil.
Mereka mengalami proses sosial yang berbeda dari generasi sebelumnya—generasi baby boomer—yang lebih terbiasa dengan perjuangan dan kesulitan hidup.
Mengapa Generasi Ini Disebut "Strawberry"?
Istilah strawberry sendiri menggambarkan sifat yang rapuh, seperti buah strawberry yang mudah hancur jika ditekan.
Paul Hirst menggunakan istilah ini untuk menggambarkan anak-anak muda yang lebih rentan terhadap tekanan hidup karena pola asuh yang terlalu protektif.
Orang tua, yang sering kali menjadi "tameng" bagi anak-anak mereka, menghindarkan mereka dari pengalaman kesulitan atau kegagalan.
Akibatnya, anak-anak ini menjadi kurang mampu mengatasi perasaan kecewa, frustasi, atau kegagalan—perasaan yang merupakan bagian penting dari pertumbuhan emosional mereka.
Dampak Pola Asuh Terlalu Melindungi
Salah satu poin utama dalam konsep Generasi Strawberry adalah pola asuh yang disebut overprotective parenting.
Orang tua yang terlalu melindungi anak-anak mereka, cenderung tidak memberi mereka kesempatan untuk menghadapi kesulitan atau kegagalan sendiri.
Akibatnya, anak-anak ini tidak terlatih dalam menghadapi tantangan hidup dan cenderung menjadi pribadi yang bergantung pada orang tua.
Paul Hirst juga menekankan bahwa orang tua yang selalu "menjadi Batman" atau pelindung anak mereka dalam setiap situasi.
Seperti membela anak saat melakukan kesalahan atau mengatasi masalah yang seharusnya bisa diselesaikan oleh anak itu sendiri.
Hal itu akan menyebabkan generasi muda ini tumbuh dengan mentalitas yang lebih lemah, serta berdampak buruk ketika anak-anak ini harus memasuki dunia dewasa yang penuh dengan tantangan yang tak terhindarkan.
Bagaimana Generasi Strawberry Mempengaruhi Politik?
Paul Hirst tidak hanya berbicara tentang Generasi Strawberry dalam konteks psikologi sosial dan parenting, tetapi juga dalam perspektif politik.
Paul Hirst menyoroti bahwa perubahan demografis di Australia pada saat itu, yang mencakup peningkatan jumlah generasi muda, akan berpengaruh terhadap pergeseran politik di masa depan.
Generasi yang lebih muda, menurut Hirst, lebih progresif dan lebih cenderung mendukung kebijakan sosial yang lebih berfokus pada keadilan sosial dan perubahan.
Namun, jika generasi ini terus dilindungi dari tantangan hidup, mereka mungkin tidak siap untuk menghadapi tekanan dalam dunia nyata dan bisa menjadi lebih mudah dipengaruhi oleh kebijakan yang tidak realistis.
Pola asuh yang terlalu melindungi ini dapat menciptakan ketidakmampuan untuk menghadapi perbedaan pendapat atau krisis yang lebih besar di masa depan.
Mengapa Kita Harus Peduli dengan Generasi Strawberry?
Pola asuh yang terlalu melindungi memang dapat memberikan kenyamanan jangka pendek, tetapi dalam jangka panjang, ini dapat merugikan perkembangan anak dalam hal ketahanan mental dan kemampuan untuk mengambil keputusan secara mandiri.
Baca Juga: Setelah Gus Miftah Viral, Saatnya Rehat di Nepal van Java, Temukan Daya Tarik yang Menenangkan
Menurut Rhenald Kasali, ahli pendidikan dan manajemen, orang tua perlu memberikan anak kesempatan untuk merasakan dan mengelola berbagai emosi, termasuk rasa sakit, kecewa, dan kegagalan.
Hal ini penting untuk membentuk mental yang tangguh agar anak tidak menjadi bagian dari Generasi Strawberry yang rapuh.
Rhenald Kasali mengingatkan bahwa orang tua seharusnya tidak selalu "menjadi tameng" bagi anak.
Mereka harus lebih fokus pada pendidikan karakter anak, yang tidak hanya mengajarkan mereka tentang kesuksesan, tetapi juga tentang pentingnya kegagalan sebagai bagian dari proses belajar.
Generasi Strawberry, yang pertama kali dicetuskan oleh Paul Hirst pada 1978, menjadi peringatan bagi kita semua tentang pentingnya membangun mental yang kuat pada anak-anak. Pola asuh yang terlalu protektif bisa menciptakan ketergantungan, dan akhirnya menghambat kemampuan anak untuk menghadapi tantangan hidup yang nyata. (kid)
Editor : Nur Wachid